Thursday, November 1, 2018

BERBAGAI KESALAHAN LANGKAH SEKOLAH KINI DAN SOLUSI PENYELESAINNYA



BERBAGAI  KESALAHAN  SEKOLAH MODERN DAN SOLUSI PENYELESAINNYA
Meski beban  tanggung jawab yang dipikul sekolah saat ini  cukup besar dalam mendidik generasi,namun sekolah berada dalam langkah-langkah salah yang menghawatirkan menakutkan  membawa umat Islam dan mengantarkan generasinya menuju kehinaan, faham  permisif  dan pemikiran atheis di berbagai negeri arab dan negeri Islam.Kesalahan-kesalahan ini antara lain :
1.      Sikap mengisolir diri  dan menutup diri.
Di masa silam kutab-kutab (sekolah tradisional), dan halaqoh-halaqoh muncul dari  inisiatif rakyat kecil untuk mendidik rakyat muslim. Keberedaannya senantiasa berhubungan erat dengan rakyat. Tidak membentuk strata komunitas profesioal tersendiri terpisah dari rakyat.Sebaliknya senantiasa memberi solusi  segala problematika yang ada dalam masyarakat Islam.Para siswa penuntut ilmu dengan tulus  memberi kritikan-kritikan  terhadap kesalahan-kesalahan pemerintah, para pedagang ,penguasa dan pengusaha, memberi masukan, saran dan nasehat kepada mereka ,tanpa peduli cacian orang demi berada di jalan Allah.Mereka menyertai  rakyat dalam suka dan duka mereka  dan saat peperangan terjadi.Seperti yang dilakukan oleh syeh Ahmad Ibnu Taimiyyah  dan murid-muridnya  dalam memerangi  golongan bathiniyyah yang berupaya menohok umat Islam dari belakang di masa perang salib terjadi.Hal ini didorong lantaran ilmu dan pendidikan Islam yang mereka peroleh telah menyiapkan diri mereka untuk memberi pengabdian penuh kepada masyarakat mereka dan umat bangsa mereka.
            Namun berbeda jauh sekolah Modern saat ini yang telah lepas menutup diri dari kehidupan sosial  sedikit  peka terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakatnya yang kemudian upaya mewujudkannya  atau peka terhadap kesalahan-kesalahan masyarakat lalu berupaya meluruskannya.
Umumnya kebanyakan sekolah-sekolah tersebut hidup berada di menara gadingnya, dalam dunianya sendiri yang menutup  diri. Tujuannya hanya menyelesaikan target kurikulumnya , mendisplinkan anak didik, mengakomudir iklim pendidikan sekolah yang kondusif , menjaga reputasinya di mata umum,menghasilkan out put sekolah yang diharapkan dan  tingkat prosentase ketuntasan dan keberhasilan yang tinggi.Sebagian pakar pendidikan seperti  John Dewey dengan suara lantang menyerukan untuk menjadikan  sekolah sebagai unit masyarakat kecil (nucler society) . Namun hal ini belum cukup memadai  lantaran  sekolah masih tetap saja  menjadi masyarakat akademis –anak anak, tidak mencerminkan masyakarat orang-orang dewasa tidak akomodatif kecuali sedikit sekali dalam batas-batas studi pelajaran lingkungan dan pendidikan kewarganegaraan (cinta tanah air).

Pendidikan Islam yang berorientasi menghasilkan agen perubahan (agent of Change) dan perbaikan tulen  dan pioner-pioner yang berwawasan sosial menyerukan  sekolah  untuk turut berpartisipasi aktif memberi masukan , saran dan nasehat bagi masyarakat dan berkonstribusi dalam perbaikan masyarakat dan menyerukannya untuk mengirim sebagian anak didiknya menjadi juru da’wah  di berbagai masjid, pendukung memotivasi mentaati peraturan lalu lintas misalnya, menjaga kebersihan kota dan taman-tamannya,mengumpulkan dana bantuan untuk jihad perjuangan, membantu orang-orang miskin, usaha menghapus buta huruf dan segala yang dibutuhkan masyarakat.
Untuk mewujudkan hal itu sekolah berkewajiban  mengadopsi kurikulum-kurikulumnya, buku-bukunya,keputusan dan polecy-polecy yang diambil dan kegiatannya dari  aqidah umat sepenuhnya , sejarahnya, tujuannya, tuntutan kebutuhannya , cita-cita  dan penderitannya, sehingga mampu menghasilan generasi yang punya kepekaaan terhadap problematika masyarakatnya dan mampu memberi solusinya, sensitip terhadap penderitaan bangsanya dan terdidik upaya menghapus deritanya,memusuhi yang menjadi musuh bangsanya, hidup tumbuh dalam jiwanya idealisme luhur bangsanya dan berbagai kemaslahatannya dan berupaya merealisasikannya sejak dini agar terus berimpati terhadap masyarakat dan problematika bangsanya , menjadi  pembela umat Islam tulus  sepanjang  hidupnya. 
Semua sekolah memili visi yang sama atas dasar itu semua lantaran para steak holder (para praktisi pendidikannya) menjalankan tugas atas dasar keikhlasan, keimanan yang benar dan bekerja li i’lai kalimatillah di dalam jiwa dan hati anak didik generasi umat,dan berlat  para supervisor sekolah-sekolah tersebut yang mengatur persoalannya kurikulumnya, dan kegiatannya atas dasar prinsip-prinsip  tersebut dan bimbingan , saran , arahan, dan kerja sama dengan para pengajar baik laki-laki dan wanitanya dan  para praktisinya dengan penuh kesadaranya,kesungguhanya,kecermatanya dan keikhalasannya untuk kemaslahatan bersamayang tidak akan terwujud kecuali dengan bertujuan mendapatkan ridlo Allah . Inilah perekat yang menyatukan hati orang-orang mukhlis dan para aktivisnya.

2.      Gemar mengekor budaya barat dan filsafatnya yang berbasis pada faham atheis.
Kalau kita mau merenung dan berfikir sebagian besar buku-buku sekolah dan referensi yang dipakai  niscaya kita dapati merupakan karya terjemahan yang sebagian terjemahan tektual dan sebagian maknawi dari berbagai referensi  dan budaya barat.Sebagai contoh misalnya sejarah kita merupakan kutipan yang dikutip para penulis kita dari karya -karya referensi  para sejarawan asing.Buku-buku ilmu alam; fisika, kimia, ilmu bedah merupakan karya terjemahan dari berbagai hasil karya riset pengetahuan alam yang dilakukan para ilmuawan barat.Demikian juga berbagai disiplin ilmu humaniora  ;ilmu pendidikan,psikologi, sosiologi dan ilmu-ilmu selebihnya seperti geologi dan geografi.
            Dan niscaya ada orang berkata,” Apa bahayanya bagi seorang muslim kalau sekira ia mengadopsi hikmah dan pengetahuan dari musuh-musuhnya, sepanjang hal itu sangat dibutuhkan disamping mereka lebih awal dari kita dalam menemukan pengetahuan tersebut dan mengembangkannya.Setelah nenek moyang kita meletakkan prinsip-prinsip dasar penelitiannya. Dan merekalah yang sebenarnya yang menyusun karya-karya tentang prinsip-prinsip dasar kedokteran, fisika, kimia , Al jabar dan ilmu sosiologi.”
            Terkadang pernyataan  itu bisa dibenarkan, sekiranya memungkinkan mengadopsi ilmu-ilmu ini tanpa mengoncangkan aqidah para remaja, menghilangkan jati dirinya serta menebarkan kerusakan eksistensi sosial umat.Orang-orang barat itu telah merubah segala prinsip dasar yang menjadi basis konstruksi reset nenek moyang kita dan mereka hanya mengambil metodologi rasional dan terapanya bukan  prinsip dasar relegiusnya dan pemikirannya.
            Demikianlah pengetahuan-pengetahuan barat ini telah memiliki pijakan ontologis yang sepenuhnya bertolak belakang dengan aqidah tauhid yang hidup aktif  di hati  setiap muslim dan ia pertahankan dengan penuh ghiroh Islamnya. Ilmu pengetahuan barat berangkat dari  konsepsi yang salah tentang alam wujud atau semesta yang sepenuhnya bertolak belakang prinsip dasar pemikiran Islam yang telah kami jelaskan fasal ketiga dari buku ini.
            Mungkin dapat kami kemukakan secara ringkas  latar belakang atau pijakan ontologis yang sama antara semua cabang pengetahuan dan budaya barat. Alam wujud atau semesta, menurut mereka hanya terbatas alam dan manusia.Manusia adalah bagian semesta dan jenis dari berbagai jenis alam wujud. Alam ada dengan sendirinya, demikian sistem dan hukum-hukum alam yang berlaku. Alam , menurut mereka , ditentukan oleh diri sendiri tanpa  ada yang menentukannya.Akal menurut mereka satu-satu jalan untuk mengetahui hakekat realitas dan di sana tidak ada jalan lain.Tidaklah nilai-nilai moral, nilai-nilai lain, berbagai pemahaman hak-hak melainkan kejadian dan kasus-kasus peristiwa  seperti peristiwa-peristiwa alam pada umumnya, tumbuh dan mengalamai perkembangan dan evolusi  yang tidak berlaku permanen lagi konstan.Sementara manusia sendiri adalah spesies binatang/makhluk sosial yang berfikir semata dan jiwa manusia hanyalah sekumpulan tabiat-tabiat bawaannya.
            Dalam filsafat barat dan konsep wujud  alam semesta , sebagaimana kita lihat, tidak ada tempat bagi tuhan, hubungannya dengan manusia, alam semesta, dan hukum kausalitasnya, hubungannya dengan wahyu, dan nubuwat,disamping tidak ada ruang untuk  persoalan pembalasan, kehidupan abadi dan berbagai persoalan ghoib-ghoib lainnya.[1]
Sesungguhnya pemahaman-pemahaman sedemikian tersebar di berbagai bidang disiplin ilmu  yang diajarkan dalam berbagai sistem pendidikan dan pengajaran yang berlaku di dunia Islam. Yang lewat itu semuanya, terbentuk struktur pemikiran idologis  yang kontradiksi dengan Islam secara mendasar.[2]
Ini  adalah bencana besar yang sengaja  masukkan sekolah modern ke dalam umat bangsa kita dan generasi kita  di penjuru negeri Islam, suatu bencana yang belum pernah di kenal umat dalam sejarah yang lebih menakutkan dan mengerikan akibatnya dari bencana tersebut.Bencana yang tidak dapat dilampaui petaka serangan Tartar,perang salib dan perang melawan kolonialis –imperalis.Sebaliknya probematika baik politik,sosial,ekonomi,dan pendidikan menimpa umat  merupakan cabang-cabang dari problem utama tersebut.
Sesungguhnya solusi pemecahan problematika ini tidak dengan  menolak semua ilmu ini dan menutup pintu rapat-rapat dihadapannya, akan tetapi solusi yang kami kemukakan dan kami serukan untuk dipegangi adalah  memformulasikan ilmu-ilmu ini kesemua dengan formulasi Islam. Atau dengan kata lain, menegakkan ilmu-ilmu tersebut pada prinsip-prinsip  dasar Islam  dan berjalan dari pijakan ontologi Islam. Merekonstruksikannya pada konsep umum tentang wujud sebagaimana yang dikemukakan Islam.
3.      Terbelahknya (disintegrasi) kepribadian anak dan terputus tali-tali pengikat keutuhannya.
Kesalahan  ini akibat  toleransi terhadap kesalahan sebelumnya.Hal itu karena sebagian besar bangsa barat tidak bisa melepaskan sepenuhnya dari keyakinan agama dan keyakinan adanya Sang Pencipta dan hari Akhir  sebagaimana mestinya.Para pemikir  dan budayawan barat tidak mendapati jalan memisah antara ilmu dan agama  dan antara gereja dan penguasa. Tersebarlah  prinsip yang salah,”Biarkanlah hak Tuhan untuk Tuhan dan tinggalkanlah  hak kaisar untuk kaisar.”. Akibatnya faham atheisme yang menjadi dasar pijakan budaya  barat kian kokoh tertanam kuat, sebagaiman kita lihat di berbagai  sekolah, berbagai jurnal ilmiah dan berbagai bidang ilmu dengan anggapan bahwa ilmu-ilmu tersebut adalah ilmu wadiyyah  ( produk manusia yang kondisional) ( yang mempelajari realitas faktual)  tidak berhubungan dengan agama sekali. Padahal mencari bukti keagungan Allah merupakan bagian realitas dari setiap akal sehat yang berfikir secara logis. Yang berangkat  dari hal yang bisa ditangkap  indera di sekelilingnya menuju ke arah asbab prime cause (penyebab utama) sebagaiman lihat dalam sub bahasan prinsip –prinsip  pendidikan Islam.
Pendidikan barat modern tidak menentukan sikap rasional terhadap kontradiksi sedemikian, padahal dalam bidang psikologi dan aktifitas  pendidikan  mempercayai sepenuhnya integritas jiwa dan keutuhan kepribadian manusia  dan keutuhan pengalaman anak  didik meski didapat dari beragai cara .
Sebaliknya pendidikan barat mengurangi keututahan dan integritasnya dan tunduk sepenuhnya pada filsafat disintegritas yang membelah jiwa orang menjadi dua belah yang bertolak belakang sama sekali.Satu sisi percaya  adanya Allah ,Dzat pemelihara , Sang Pencipta. Sementara yang lain percaya sepenuhnya pada alam yang menurut anggapan mereka merupakan sumber kekuatan dan energi dan sistem aturan yang ada.
            Itulah filsafat  yang mendominasi  di sebagian besar  sekolah-sekolah di berbagai negeri Islam saat ini, tanpa kita sadari.Anda lihat  guru pengajar  IPA atau Geografi misalnya  ketika ditanya peserta didik tentang rahasia sang Pencipta  dalam suatu persoalan ilmu  dari berbagai bidang ilmu yang jelaskan  iapun bereaksi  mengalihkan  kepada guru pengajar agama dengan lantaran  tidak memiliki koneksitas sama sekali dengan persoalan-persoalan agamanya.Sikap dan jawaban seperti berulang-ulang terjadi ,sehingga  anak didik pun berkeyakinan  bahwa makna-makna/spirituil   akidah dan konsepsi Islam tentang alam  semesta  tidak ada hubungan sama sekali dengan ilmu alam ataupun geografi, atau bahkan pelajaran sejarah, dan bahwa semua itu  tempatnya hanya berada di  buku-buku pelajaran agama semata, pada jam-jam pelajaran tauhid, pelajaran Fiqih, pelajaran Hadist , Al Qur’an dan Tafsir.Boleh ia mengira  bahwa Ilmu-ilmu Islam, tidak  memberi berbagai interpretasi  kejadian-kejadian alam sejelas penjelasan dari intrepretasi  pelajaran-pelajaran IPA dan geografi (penafsiran yang terbatas pada hukum-hukum  alam kausalitas) tanpa penisbatan  kepada pengaturan sang Pencipta dan pemeliharaan-Nya terhadap sunnah alam (nature law)  dan kekuatannya.
            Sesungguhnya  filsafat yang memisahkan agama dan negara (sekularisme)  dalam satu masyarakat yang sama, memisahkan  ruh dan jasad dalam satu makhluk yang sama, memisahkan ilmu dari akhlak dan moral dalam eksistensi  satu manusia yang sama, akal dari tabiat naluri  adalah filsafat yang rancau membiarkan anak didik dalam kebingungan yang tidak bisa dibayangkan,tidak memiliki keyakinan dan kepercayaan terhadap sesuatu sebaliknya hanya mengajarkannya jiwa hipokrit (munafik)  dan kepura-puraan dan gemar  menjiplak berbagai kepribadian yang penuh dengan kekurangan.
            Solusi problematika ini adalah seperti solusi sebelumnya  yaitu melakukan penyusunan ulang terhadap kurikulum,buku-buku pengetahuan dan ilmu  dari  pijakan ontologi Islam.Namun  dengan syarat  menyelenggarakan  workshop  pendidikan Islam  melatih  para pendidik dan pengajar  untuk mewujudkan  pijakan ontologis ini  di berbagai aspek pedidikan  dan pengajaran sekolah.[3]

4.      Pengkultusan mem-berhala-kan  dan mendewa-dewakan sertifikat dan ijazah  serta berbagai ujian  dan menjadikan tujuan utama pendidikan.
Ijazah ilmiah dahulu kala di masa para pendahulu kita   merupakan ijazah kesaksian seorang ulama besar  yang memberi kesaksian anak didiknya atas kompetensi dirinya untuk mengajar  sebuah kitab atau karya tertentu. Sang ulama memberi kewenangan untuk itu untuknya  dan iapun menulis kata-kata yang memberi informasi pengertian tersebut.   Aku beri lesensi dan kewenangan si fulan  mengajarkan kitab ini di bidang ilmu ini ....” Ijazah tidak diberikan kecuali setelah dirasa benar  kompetensi dan kemampuan  guru baru  ini dan setelah sering menyertai gurunya  dalam tempo waktu yang cukup memadai, melakukan diskusi dan kajian  semua persoalan pelik  di kitab tersebut  dengan pemahaman yang mendalam , cermat dan uraian.Setelah itu sang penerima Ijazah masih terus menjaga hubungan sang gurunya.Demikian sertifikat /ijazah  semula merupakan titik awal  studi , kajian  dan riset ilmiahnya.
 Adapun sekarang  telah berubah seratus delapan puluh derajat,anak didik tujuan belajar hanya untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah.Bila elah memperoleh  berakhir pula  kehidupan ilmiahnya dan lupa semua yang pernah dipelajari.Nilai  ijazah diukur dengan parameter tingkat pekerjaan yang memberikan kadar keuntungan materiil secara efektif dan effesien  sehingga tak ubahnya selembar chek  yang dibawah alumnusnya untuk mengetuk pintu-pintu perusahaan  atau  intansi pemerintah, guna mendapatkan status sosial yang bergengsi  dan mendapatkan gaji bulanan yang besar.
5.      Menelurkan para pegawai mekanik laksana robot
Demikianlah  perguruan-perguruan tinggi  dan sekolah sekolah menghasilkan pemuda-pemuda yang sedikit pengetahuanya , berpola pikir yang monoton, tujuan belajarnya hanya untuk mendapatkan ijazah, tidak mempercayai hakekat-hakekat ilmiah, enggan mendengar hasil- hasilnya dalam dunia pemikiran dan aplikasinya.Tujuan mereka hanya menuangkan huruf-huruf dan pernyataan-pernyataan  di kertas ujian kemudian lupa begitu saja selepas ia tamat sekolah .Bila  diserahi tugas pekerjaan di sebuah instansi atau perusahaan  mereka menjadi pegawai-pegawai  seperti mesin tuli  yang   bergerak  menurut intruksi yang diberikan, kehilangan  kemampuan enovatif, hilang orisinilitas dirinya dan  kreatifitas  pribadi terhadap  pemccahan problematika  yang dihadapi.Tujuan mereka melewati hari-harinya untuk  segera menerima gaji-gaji, melewati dari bulan ke bulan ,dari tahun ke tahun  menanti tunjangan dan kenaikan pangkat atau jabatan.

Solusi dua problematika ini adalah mewujudkan hal –hal sebagai berikut :
-          Melatih para pemuda  dalam kehidupan kampus  perguruan tinggi atau  sekolah-sekolah  tinggi  teknik ............. untuk menggunakan  pengetahuan-pengetahuan mereka ,ilmu dan kemampuan tehnik yang mereka peroleh dalam penyelesaikan  problematika masyarakat mereka.Yakni memperbanyak kegiatan riset , experiment ilmiah nyata di lapangan dan  berbagai workshop dan  diklat yang mereka dilaksanakan pada kegiatan  yang sesuai dengan tehnik  dan disiplin ilmu perguruan tinggi yang menjadi spsifikasi mereka.
-          Membangkitkan kesadaran robbani dan kesadaran pendidikan islam di kalangan pemuda  sehingga mereka mempunyai tanggungjawab ilmiah .Apa yang mesti mereka lakukan  saat ia berada dihadapan sang pencipta kelak  di hari pembalasan.Lewat ini mereka merasa bahwa proses belajar mereka bertujuan untuk menyiapkan dirinya siap berjuang  di jalan meninggikan kalimat llah  dengan jalan melakuan perbaikan masyarakatnya  dan kebangkitan realitas umat Islam.
-          Menanamkam rasa percaya diri  pada diri para pemuda, dan percaya karomah dan kemulian yang Allah gunakan memuliakan manusia, dan menanamkan keyakinan bahwa yang bisa menjadi seorang pemuda mulia  adalah ilmunya, riset penelitianya, dan skill yang ditekuninya, dan amalan perbuatan yang dilakukannya secara ikhlas .Sementara ijazah hanya merupakan simbol ketuntasan di jenjang pendidikan tertentu bukan bukti  kompetensi diri untuk suatu pekerjaan tertentu.Berapa banyak pembawa ijazah gagal  dalam hidupnya, dan betapa banyak ilmuawan dan ulama produktif , ijazahnya berupa karya –karya tulisnya, berbagai riset  dan ketulusannya dalam menebarkan ilmu dan mengamalkannya.


PEMBAHASAN KETIGA
SEKOLAH
Sekolah adalah  wadah atau wahana pendidikan kedua   setelah keluarga, karena anak didik menghabiskan separuh waktunya, mempelajarai  suatu yang belum diketahui sebelumnya, di sana  ia memperbaiki berbagai pemahaman yang salah  perihal akidahnya dan ibadahnya, disamping mendapat didikan akhlak yang terpuji.
            Peran ini berasal dari keberadaan sekolah sangat berpengaruh kuat  pada individu-individunya  lewat gesekan antara sesama anak didik sebagian dengan sebagian yang lain, interaksi mereka dengan dengan para pengajar yang mereka dimata mereka suritauladan bagi mereka.Oleh karena itu sekolah yang sukses adalah sekolah  yang menaruh perhatian menanam keimanan yang benar di kalangan anak didiknya . Sehingga terkonstruksi  tujuan-tujuannya atas  dasar norma dan prinsip –prinsip dasar yang soliter dari akidah yang benar.Sekolah yang tidak mampu menanamkan keimanan di  jiwa anak didiknya  hanya akar menelurkan generasi yang bodoh sama sekali eksistensi dirinya , terjun dalam arus gelombang kehidupan  dalam kebingunan  dan kacau tidak ada  upaya mewujudkan penghambaan yang menjadi tujuan penciptaan dirinya.
            Diantara hal seyogjanya diperhatian  agar sekolah mampu mewujuddkan tujuan-tujuannya antara lain : memilih guru  yang berkualitas  dengan melaksanan pelatihan  dan pengembangan ketrampilannya., disamping memperhatikan metodologi  pembelajaran guru dalam mengajar termasuk kegiatan pembelajaran in door (dalam kelas)  maupun out door (di luar kelas) dan berbagai kegiatan yang dikategorikan tugas-tugas sekolah.
Fungsi dan tugas sekolah
Sesungguhnya tugas pokok sekolah adalah  mewujudkan ubudiyah (penghambaan diri ) kepada Allah lewat kurikulum , aktivitas pendidikannya, termasuk tugas-tugas  parsial dari tugas besar ini yang merealisir  fungsi dan tugas pokoknya.Hal yang mesti diketahui oleh para steak holder (praktisi ) urusan sekolah adalah mengidentifikasi tugas-tugas sekolah sehingga mampu mengetahui tujuan-tujuannya, apa yang mesti dibangkitkan dan dikembangkan serta direalisasikannya dan apa yang menjadi beban tanggung jawab  di pundak guru dalam tugas pendidikan dan pengajaran. Karena dari ada sekilas bahwa  pemahaman tugas sekolah hanya terbatas  pada aspek kognitif semata, berfokus pada sejauh mana kompetensi  peserta didik dalam menghafal materi ilmu pengetahuan  dan memprodusir kembali . Padahal tugas sekolah jauh melampaui itu semua. Mungkin tugas-tugas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Tugas yang terkait dengan ranah kognitif atau pengetahuan.
Yaitu tugas sekolah memperkenalkan  peserta didik dan mengajarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar dari ilmu pengetahuan kepada mereka sehingga mereka mampu memahami  dan mencermati  isinya  sesuai standar ketuntasan yang dikehendaki ,baik kemampuan verbal menghafal dan memahami  atau memahami tanpa menghafal, kepandaian menginduksikan , menyimpulkan,menganalogkan, mengetahui keumuman genelarisai kaidah pengetahuan  atau kekhususannya dan berbagai hal yang berhubungan aspek ketuntasan .
2.      Tugas praktis
Sebagaimana  diketahui bahwa aspek kognitif/pengetahuan bukan menjadi tujuannya sendiri  melainkan hanya sebuah media alat dari sebuah implementasi yang benar.Ilmu tanpa diimplementasikan secara nyata  tidak ada nilai sama sekali dan tidak ada buahnya.Anak didik yang mempelajari persoalan ibadah syar’iyyah yang tidak  bila melaksanakan baik dalam keyakinan dan kenyataan  kongkit, sesungguhnya ilmunya itu tidak ada nilainya sama sekali sebaliknya hanya usaha jerih payah  dan hujjah yang menyengsarakan anak didik.Demikian juga dokter yang tidak bisa menerapkan  apa yang dipelajarinya, Insiyur yang tidak bisa melaksanakan pekerjaannya sesuai apa yang dipelajarinya , sesungguhnya itu hanya usaha yang tidak ada hasilnya , ilmu tanpa buah . Dari sini  muncul  peran tugas  aplikasi –praktis  yang tercermin dalam tugas dan fungsi ke dua sekolah .
 Tugas aplikasi –praktis ini  meliputi dua hal ;
1.      Tugas takholliyah atau pembebasan dan melepaskan , yaitu melepaskan  dan membebaskan anak didik dari kebodohan dan penyimpangan baik dalam aspek aqidah, ibadah maupun aspek moral akhlak, pola berfikir dan aspek profesi pekerjaan.
2.      Tugas tahalliyah  yaitu tugas mendidik anak didik  pada berbagai kebaikan  baik dalam akidahnya, ibadahnya, akhlaknya , pekerjaan  penerapan secara praktis  bukan teoritis.
Orang yang berfikir  faktor degradasi pengajaran  dan pembelajaran pada sekolah-sekolah di dunia Islam akan mendapatinya bersumber dari kurangnya  memahami tugas-tugas dan fungsi sekolah, keterbasan metode dan kurikulum  , penyediaan guru-guru yang kurang bagus,
Prinsip-prinsip dasar sekolah.
Sekolah berdiri pada empat faktor utama , berhasil atau gagal tergantung berhasil tidaknya empat faktor tersebut yaitu :
1.      Guru pengajar.
2.      Kurikulum
3.      Kegiatan pembelajaran
4.      Administrasi sekolah.


[1] ) Ustadz Muhammad Mubarok , majalah al Ba’ats Islamy (jilid 21 edisi 10  hal .32  terbit di nadwa ulama  India.
[2] ) Dalam berbagai buku  ilmu pengetahuan alam anda dapati seperti pernyataan mereka  bahwa alam memberikan  manusia potensi- potensi  ini  dan kesiapan dan kesanggupan ini dan itu.
[3] ).............

No comments:

Post a Comment