BERBAGAI KESALAHAN SEKOLAH MODERN DAN SOLUSI PENYELESAINNYA
Meski beban tanggung jawab yang dipikul sekolah saat ini cukup besar dalam
mendidik generasi,namun sekolah berada dalam langkah-langkah salah yang
menghawatirkan menakutkan membawa umat Islam
dan mengantarkan generasinya menuju kehinaan, faham permisif
dan pemikiran atheis di berbagai negeri arab dan negeri
Islam.Kesalahan-kesalahan ini antara lain :
1.
Sikap mengisolir diri dan
menutup diri.
Di masa silam
kutab-kutab (sekolah tradisional), dan halaqoh-halaqoh muncul dari inisiatif rakyat kecil untuk mendidik rakyat
muslim. Keberedaannya senantiasa berhubungan erat dengan rakyat. Tidak
membentuk strata komunitas profesioal tersendiri terpisah dari
rakyat.Sebaliknya senantiasa memberi solusi
segala problematika yang ada dalam masyarakat Islam.Para siswa penuntut
ilmu dengan tulus memberi
kritikan-kritikan terhadap kesalahan-kesalahan
pemerintah, para pedagang ,penguasa dan pengusaha, memberi masukan, saran dan
nasehat kepada mereka ,tanpa peduli cacian orang demi berada di jalan
Allah.Mereka menyertai rakyat dalam suka
dan duka mereka dan saat peperangan
terjadi.Seperti yang dilakukan oleh syeh Ahmad Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya dalam memerangi golongan bathiniyyah yang berupaya menohok
umat Islam dari belakang di masa perang salib terjadi.Hal ini didorong lantaran
ilmu dan pendidikan Islam yang mereka peroleh telah menyiapkan diri mereka
untuk memberi pengabdian penuh kepada masyarakat mereka dan umat bangsa mereka.
Namun berbeda jauh sekolah Modern saat ini yang telah lepas
menutup diri dari kehidupan sosial
sedikit peka terhadap
kebutuhan-kebutuhan masyarakatnya yang kemudian upaya mewujudkannya atau peka terhadap kesalahan-kesalahan
masyarakat lalu berupaya meluruskannya.
Umumnya
kebanyakan sekolah-sekolah tersebut hidup berada di menara gadingnya, dalam
dunianya sendiri yang menutup diri.
Tujuannya hanya menyelesaikan target kurikulumnya , mendisplinkan anak didik,
mengakomudir iklim pendidikan sekolah yang kondusif , menjaga reputasinya di
mata umum,menghasilkan out put sekolah yang diharapkan dan tingkat prosentase ketuntasan dan
keberhasilan yang tinggi.Sebagian pakar pendidikan seperti John Dewey dengan suara lantang menyerukan
untuk menjadikan sekolah sebagai unit
masyarakat kecil (nucler society) . Namun hal ini belum cukup memadai lantaran
sekolah masih tetap saja menjadi
masyarakat akademis –anak anak, tidak mencerminkan masyakarat orang-orang
dewasa tidak akomodatif kecuali sedikit sekali dalam batas-batas studi
pelajaran lingkungan dan pendidikan kewarganegaraan (cinta tanah air).
Pendidikan
Islam yang berorientasi menghasilkan agen perubahan (agent of Change) dan
perbaikan tulen dan pioner-pioner yang
berwawasan sosial menyerukan sekolah untuk turut berpartisipasi aktif memberi
masukan , saran dan nasehat bagi masyarakat dan berkonstribusi dalam perbaikan
masyarakat dan menyerukannya untuk mengirim sebagian anak didiknya menjadi juru
da’wah di berbagai masjid, pendukung
memotivasi mentaati peraturan lalu lintas misalnya, menjaga kebersihan kota dan
taman-tamannya,mengumpulkan dana bantuan untuk jihad perjuangan, membantu
orang-orang miskin, usaha menghapus buta huruf dan segala yang dibutuhkan
masyarakat.
Untuk
mewujudkan hal itu sekolah berkewajiban
mengadopsi kurikulum-kurikulumnya, buku-bukunya,keputusan dan
polecy-polecy yang diambil dan kegiatannya dari
aqidah umat sepenuhnya , sejarahnya, tujuannya, tuntutan kebutuhannya ,
cita-cita dan penderitannya, sehingga
mampu menghasilan generasi yang punya kepekaaan terhadap problematika
masyarakatnya dan mampu memberi solusinya, sensitip terhadap penderitaan
bangsanya dan terdidik upaya menghapus deritanya,memusuhi yang menjadi musuh
bangsanya, hidup tumbuh dalam jiwanya idealisme luhur bangsanya dan berbagai
kemaslahatannya dan berupaya merealisasikannya sejak dini agar terus berimpati
terhadap masyarakat dan problematika bangsanya , menjadi pembela umat Islam tulus sepanjang
hidupnya.
Semua sekolah
memili visi yang sama atas dasar itu semua lantaran para steak holder (para
praktisi pendidikannya) menjalankan tugas atas dasar keikhlasan, keimanan yang
benar dan bekerja li i’lai kalimatillah di dalam jiwa dan hati anak didik
generasi umat,dan berlat para supervisor
sekolah-sekolah tersebut yang mengatur persoalannya kurikulumnya, dan
kegiatannya atas dasar prinsip-prinsip
tersebut dan bimbingan , saran , arahan, dan kerja sama dengan para
pengajar baik laki-laki dan wanitanya dan
para praktisinya dengan penuh kesadaranya,kesungguhanya,kecermatanya dan
keikhalasannya untuk kemaslahatan bersamayang tidak akan terwujud kecuali
dengan bertujuan mendapatkan ridlo Allah . Inilah perekat yang menyatukan hati
orang-orang mukhlis dan para aktivisnya.
2.
Gemar mengekor budaya barat dan filsafatnya yang berbasis pada
faham atheis.
Kalau kita mau
merenung dan berfikir sebagian besar buku-buku sekolah dan referensi yang
dipakai niscaya kita dapati merupakan
karya terjemahan yang sebagian terjemahan tektual dan sebagian maknawi dari
berbagai referensi dan budaya barat.Sebagai
contoh misalnya sejarah kita merupakan kutipan yang dikutip para penulis kita
dari karya -karya referensi para
sejarawan asing.Buku-buku ilmu alam; fisika, kimia, ilmu bedah merupakan karya
terjemahan dari berbagai hasil karya riset pengetahuan alam yang dilakukan para
ilmuawan barat.Demikian juga berbagai disiplin ilmu humaniora ;ilmu pendidikan,psikologi, sosiologi dan
ilmu-ilmu selebihnya seperti geologi dan geografi.
Dan niscaya ada
orang berkata,” Apa bahayanya bagi seorang muslim kalau sekira ia mengadopsi
hikmah dan pengetahuan dari musuh-musuhnya, sepanjang hal itu sangat dibutuhkan
disamping mereka lebih awal dari kita dalam menemukan pengetahuan tersebut dan
mengembangkannya.Setelah nenek moyang kita meletakkan prinsip-prinsip dasar penelitiannya.
Dan merekalah yang sebenarnya yang menyusun karya-karya tentang prinsip-prinsip
dasar kedokteran, fisika, kimia , Al jabar dan ilmu sosiologi.”
Terkadang
pernyataan itu bisa dibenarkan,
sekiranya memungkinkan mengadopsi ilmu-ilmu ini tanpa mengoncangkan aqidah para
remaja, menghilangkan jati dirinya serta menebarkan kerusakan eksistensi sosial
umat.Orang-orang barat itu telah merubah segala prinsip dasar yang menjadi
basis konstruksi reset nenek moyang kita dan mereka hanya mengambil metodologi
rasional dan terapanya bukan prinsip
dasar relegiusnya dan pemikirannya.
Demikianlah pengetahuan-pengetahuan barat ini telah
memiliki pijakan ontologis yang sepenuhnya bertolak belakang dengan aqidah
tauhid yang hidup aktif di hati setiap muslim dan ia pertahankan dengan penuh
ghiroh Islamnya. Ilmu pengetahuan barat berangkat dari konsepsi yang salah tentang alam wujud atau
semesta yang sepenuhnya bertolak belakang prinsip dasar pemikiran Islam yang
telah kami jelaskan fasal ketiga dari buku ini.
Mungkin dapat kami
kemukakan secara ringkas latar belakang
atau pijakan ontologis yang sama antara semua cabang pengetahuan dan budaya
barat. Alam wujud atau semesta, menurut mereka hanya terbatas alam dan
manusia.Manusia adalah bagian semesta dan jenis dari berbagai jenis alam wujud.
Alam ada dengan sendirinya, demikian sistem dan hukum-hukum alam yang berlaku.
Alam , menurut mereka , ditentukan oleh diri sendiri tanpa ada yang menentukannya.Akal menurut mereka satu-satu
jalan untuk mengetahui hakekat realitas dan di sana tidak ada jalan
lain.Tidaklah nilai-nilai moral, nilai-nilai lain, berbagai pemahaman hak-hak
melainkan kejadian dan kasus-kasus peristiwa
seperti peristiwa-peristiwa alam pada umumnya, tumbuh dan mengalamai
perkembangan dan evolusi yang tidak
berlaku permanen lagi konstan.Sementara manusia sendiri adalah spesies
binatang/makhluk sosial yang berfikir semata dan jiwa manusia hanyalah
sekumpulan tabiat-tabiat bawaannya.
Dalam filsafat
barat dan konsep wujud alam semesta ,
sebagaimana kita lihat, tidak ada tempat bagi tuhan, hubungannya dengan
manusia, alam semesta, dan hukum kausalitasnya, hubungannya dengan wahyu, dan
nubuwat,disamping tidak ada ruang untuk
persoalan pembalasan, kehidupan abadi dan berbagai persoalan ghoib-ghoib
lainnya.[1]
Sesungguhnya
pemahaman-pemahaman sedemikian tersebar di berbagai bidang disiplin ilmu yang diajarkan dalam berbagai sistem
pendidikan dan pengajaran yang berlaku di dunia Islam. Yang lewat itu semuanya,
terbentuk struktur pemikiran idologis
yang kontradiksi dengan Islam secara mendasar.[2]
Ini adalah bencana besar yang sengaja masukkan sekolah modern ke dalam umat bangsa
kita dan generasi kita di penjuru negeri
Islam, suatu bencana yang belum pernah di kenal umat dalam sejarah yang lebih
menakutkan dan mengerikan akibatnya dari bencana tersebut.Bencana yang tidak
dapat dilampaui petaka serangan Tartar,perang salib dan perang melawan
kolonialis –imperalis.Sebaliknya probematika baik politik,sosial,ekonomi,dan
pendidikan menimpa umat merupakan
cabang-cabang dari problem utama tersebut.
Sesungguhnya
solusi pemecahan problematika ini tidak dengan
menolak semua ilmu ini dan menutup pintu rapat-rapat dihadapannya, akan
tetapi solusi yang kami kemukakan dan kami serukan untuk dipegangi adalah memformulasikan ilmu-ilmu ini kesemua dengan
formulasi Islam. Atau dengan kata lain, menegakkan ilmu-ilmu tersebut pada
prinsip-prinsip dasar Islam dan berjalan dari pijakan ontologi Islam.
Merekonstruksikannya pada konsep umum tentang wujud sebagaimana yang
dikemukakan Islam.
3.
Terbelahknya (disintegrasi) kepribadian anak dan terputus tali-tali
pengikat keutuhannya.
Kesalahan ini akibat
toleransi terhadap kesalahan sebelumnya.Hal itu karena sebagian besar
bangsa barat tidak bisa melepaskan sepenuhnya dari keyakinan agama dan
keyakinan adanya Sang Pencipta dan hari Akhir
sebagaimana mestinya.Para pemikir
dan budayawan barat tidak mendapati jalan memisah antara ilmu dan agama dan antara gereja dan penguasa.
Tersebarlah prinsip yang salah,”Biarkanlah
hak Tuhan untuk Tuhan dan tinggalkanlah
hak kaisar untuk kaisar.”. Akibatnya faham atheisme yang menjadi dasar
pijakan budaya barat kian kokoh tertanam
kuat, sebagaiman kita lihat di berbagai
sekolah, berbagai jurnal ilmiah dan berbagai bidang ilmu dengan anggapan
bahwa ilmu-ilmu tersebut adalah ilmu wadiyyah
( produk manusia yang kondisional) ( yang mempelajari realitas
faktual) tidak berhubungan dengan agama
sekali. Padahal mencari bukti keagungan Allah merupakan bagian realitas dari
setiap akal sehat yang berfikir secara logis. Yang berangkat dari hal yang bisa ditangkap indera di sekelilingnya menuju ke arah asbab
prime cause (penyebab utama) sebagaiman lihat dalam sub bahasan prinsip
–prinsip pendidikan Islam.
Pendidikan
barat modern tidak menentukan sikap rasional terhadap kontradiksi sedemikian,
padahal dalam bidang psikologi dan aktifitas
pendidikan mempercayai sepenuhnya
integritas jiwa dan keutuhan kepribadian manusia dan keutuhan pengalaman anak didik meski didapat dari beragai cara .
Sebaliknya
pendidikan barat mengurangi keututahan dan integritasnya dan tunduk sepenuhnya
pada filsafat disintegritas yang membelah jiwa orang menjadi dua belah yang
bertolak belakang sama sekali.Satu sisi percaya
adanya Allah ,Dzat pemelihara , Sang Pencipta. Sementara yang lain
percaya sepenuhnya pada alam yang menurut anggapan mereka merupakan sumber
kekuatan dan energi dan sistem aturan yang ada.
Itulah filsafat yang
mendominasi di sebagian besar sekolah-sekolah di berbagai negeri Islam saat
ini, tanpa kita sadari.Anda lihat guru
pengajar IPA atau Geografi misalnya ketika ditanya peserta didik tentang rahasia
sang Pencipta dalam suatu persoalan
ilmu dari berbagai bidang ilmu yang
jelaskan iapun bereaksi mengalihkan
kepada guru pengajar agama dengan lantaran tidak memiliki koneksitas sama sekali dengan
persoalan-persoalan agamanya.Sikap dan jawaban seperti berulang-ulang terjadi
,sehingga anak didik pun berkeyakinan bahwa makna-makna/spirituil akidah dan konsepsi Islam tentang alam semesta
tidak ada hubungan sama sekali dengan ilmu alam ataupun geografi, atau
bahkan pelajaran sejarah, dan bahwa semua itu
tempatnya hanya berada di
buku-buku pelajaran agama semata, pada jam-jam pelajaran tauhid,
pelajaran Fiqih, pelajaran Hadist , Al Qur’an dan Tafsir.Boleh ia mengira bahwa Ilmu-ilmu Islam, tidak memberi berbagai interpretasi kejadian-kejadian alam sejelas penjelasan
dari intrepretasi pelajaran-pelajaran
IPA dan geografi (penafsiran yang terbatas pada hukum-hukum alam kausalitas) tanpa penisbatan kepada pengaturan sang Pencipta dan
pemeliharaan-Nya terhadap sunnah alam (nature law) dan kekuatannya.
Sesungguhnya filsafat yang memisahkan agama dan negara
(sekularisme) dalam satu masyarakat yang
sama, memisahkan ruh dan jasad dalam
satu makhluk yang sama, memisahkan ilmu dari akhlak dan moral dalam
eksistensi satu manusia yang sama, akal
dari tabiat naluri adalah filsafat yang
rancau membiarkan anak didik dalam kebingungan yang tidak bisa
dibayangkan,tidak memiliki keyakinan dan kepercayaan terhadap sesuatu
sebaliknya hanya mengajarkannya jiwa hipokrit (munafik) dan kepura-puraan dan gemar menjiplak berbagai kepribadian yang penuh
dengan kekurangan.
Solusi
problematika ini adalah seperti solusi sebelumnya yaitu melakukan penyusunan ulang terhadap
kurikulum,buku-buku pengetahuan dan ilmu
dari pijakan ontologi
Islam.Namun dengan syarat menyelenggarakan workshop
pendidikan Islam melatih para pendidik dan pengajar untuk mewujudkan pijakan ontologis ini di berbagai aspek pedidikan dan pengajaran sekolah.[3]
4.
Pengkultusan mem-berhala-kan dan mendewa-dewakan sertifikat dan ijazah serta berbagai ujian dan menjadikan tujuan utama pendidikan.
Ijazah ilmiah
dahulu kala di masa para pendahulu kita
merupakan ijazah kesaksian seorang ulama besar yang memberi kesaksian anak didiknya atas
kompetensi dirinya untuk mengajar sebuah
kitab atau karya tertentu. Sang ulama memberi kewenangan untuk itu
untuknya dan iapun menulis kata-kata
yang memberi informasi pengertian tersebut.
“ Aku beri lesensi dan kewenangan si
fulan mengajarkan kitab ini di bidang
ilmu ini ....” Ijazah tidak diberikan kecuali setelah dirasa benar kompetensi dan kemampuan guru baru
ini dan setelah sering menyertai gurunya
dalam tempo waktu yang cukup memadai, melakukan diskusi dan kajian semua persoalan pelik di kitab tersebut dengan pemahaman yang mendalam , cermat dan
uraian.Setelah itu sang penerima Ijazah masih terus menjaga hubungan sang
gurunya.Demikian sertifikat /ijazah
semula merupakan titik awal studi
, kajian dan riset ilmiahnya.
Adapun sekarang telah berubah seratus delapan puluh
derajat,anak didik tujuan belajar hanya untuk mendapatkan sertifikat atau
ijazah.Bila elah memperoleh berakhir
pula kehidupan ilmiahnya dan lupa semua
yang pernah dipelajari.Nilai ijazah
diukur dengan parameter tingkat pekerjaan yang memberikan kadar keuntungan
materiil secara efektif dan effesien
sehingga tak ubahnya selembar chek
yang dibawah alumnusnya untuk mengetuk pintu-pintu perusahaan atau
intansi pemerintah, guna mendapatkan status sosial yang bergengsi dan mendapatkan gaji bulanan yang besar.
5.
Menelurkan para pegawai mekanik laksana robot
Demikianlah perguruan-perguruan tinggi dan sekolah sekolah menghasilkan
pemuda-pemuda yang sedikit pengetahuanya , berpola pikir yang monoton, tujuan
belajarnya hanya untuk mendapatkan ijazah, tidak mempercayai hakekat-hakekat
ilmiah, enggan mendengar hasil- hasilnya dalam dunia pemikiran dan
aplikasinya.Tujuan mereka hanya menuangkan huruf-huruf dan
pernyataan-pernyataan di kertas ujian
kemudian lupa begitu saja selepas ia tamat sekolah .Bila diserahi tugas pekerjaan di sebuah instansi
atau perusahaan mereka menjadi pegawai-pegawai seperti mesin tuli yang bergerak
menurut intruksi yang diberikan, kehilangan kemampuan enovatif, hilang orisinilitas
dirinya dan kreatifitas pribadi terhadap pemccahan problematika yang dihadapi.Tujuan mereka melewati
hari-harinya untuk segera menerima
gaji-gaji, melewati dari bulan ke bulan ,dari tahun ke tahun menanti tunjangan dan kenaikan pangkat atau
jabatan.
Solusi dua problematika ini adalah mewujudkan hal –hal sebagai
berikut :
-
Melatih para pemuda dalam
kehidupan kampus perguruan tinggi
atau sekolah-sekolah tinggi
teknik ............. untuk menggunakan
pengetahuan-pengetahuan mereka ,ilmu dan kemampuan tehnik yang mereka
peroleh dalam penyelesaikan problematika
masyarakat mereka.Yakni memperbanyak kegiatan riset , experiment ilmiah nyata
di lapangan dan berbagai workshop
dan diklat yang mereka dilaksanakan pada
kegiatan yang sesuai dengan tehnik dan disiplin ilmu perguruan tinggi yang
menjadi spsifikasi mereka.
-
Membangkitkan kesadaran robbani dan kesadaran pendidikan islam di
kalangan pemuda sehingga mereka
mempunyai tanggungjawab ilmiah .Apa yang mesti mereka lakukan saat ia berada dihadapan sang pencipta
kelak di hari pembalasan.Lewat ini
mereka merasa bahwa proses belajar mereka bertujuan untuk menyiapkan dirinya
siap berjuang di jalan meninggikan
kalimat llah dengan jalan melakuan
perbaikan masyarakatnya dan kebangkitan
realitas umat Islam.
-
Menanamkam rasa percaya diri
pada diri para pemuda, dan percaya karomah dan kemulian yang Allah
gunakan memuliakan manusia, dan menanamkan keyakinan bahwa yang bisa menjadi
seorang pemuda mulia adalah ilmunya,
riset penelitianya, dan skill yang ditekuninya, dan amalan perbuatan yang dilakukannya
secara ikhlas .Sementara ijazah hanya merupakan simbol ketuntasan di jenjang
pendidikan tertentu bukan bukti
kompetensi diri untuk suatu pekerjaan tertentu.Berapa banyak pembawa
ijazah gagal dalam hidupnya, dan betapa
banyak ilmuawan dan ulama produktif , ijazahnya berupa karya –karya tulisnya,
berbagai riset dan ketulusannya dalam
menebarkan ilmu dan mengamalkannya.
PEMBAHASAN
KETIGA
SEKOLAH
Sekolah adalah wadah atau wahana pendidikan kedua setelah keluarga, karena anak didik
menghabiskan separuh waktunya, mempelajarai
suatu yang belum diketahui sebelumnya, di sana ia memperbaiki berbagai pemahaman yang
salah perihal akidahnya dan ibadahnya,
disamping mendapat didikan akhlak yang terpuji.
Peran ini berasal
dari keberadaan sekolah sangat berpengaruh kuat
pada individu-individunya lewat
gesekan antara sesama anak didik sebagian dengan sebagian yang lain, interaksi
mereka dengan dengan para pengajar yang mereka dimata mereka suritauladan bagi
mereka.Oleh karena itu sekolah yang sukses adalah sekolah yang menaruh perhatian menanam keimanan yang
benar di kalangan anak didiknya . Sehingga terkonstruksi tujuan-tujuannya atas dasar norma dan prinsip –prinsip dasar yang
soliter dari akidah yang benar.Sekolah yang tidak mampu menanamkan keimanan
di jiwa anak didiknya hanya akar menelurkan generasi yang bodoh
sama sekali eksistensi dirinya , terjun dalam arus gelombang kehidupan dalam kebingunan dan kacau tidak ada upaya mewujudkan penghambaan yang menjadi
tujuan penciptaan dirinya.
Diantara hal
seyogjanya diperhatian agar sekolah
mampu mewujuddkan tujuan-tujuannya antara lain : memilih guru yang berkualitas dengan melaksanan pelatihan dan pengembangan ketrampilannya., disamping
memperhatikan metodologi pembelajaran
guru dalam mengajar termasuk kegiatan pembelajaran in door (dalam kelas) maupun out door (di luar kelas) dan berbagai
kegiatan yang dikategorikan tugas-tugas sekolah.
Fungsi
dan tugas sekolah
Sesungguhnya tugas pokok sekolah
adalah mewujudkan ubudiyah (penghambaan
diri ) kepada Allah lewat kurikulum , aktivitas pendidikannya, termasuk
tugas-tugas parsial dari tugas besar ini
yang merealisir fungsi dan tugas
pokoknya.Hal yang mesti diketahui oleh para steak holder (praktisi ) urusan
sekolah adalah mengidentifikasi tugas-tugas sekolah sehingga mampu mengetahui
tujuan-tujuannya, apa yang mesti dibangkitkan dan dikembangkan serta
direalisasikannya dan apa yang menjadi beban tanggung jawab di pundak guru dalam tugas pendidikan dan
pengajaran. Karena dari ada sekilas bahwa
pemahaman tugas sekolah hanya terbatas
pada aspek kognitif semata, berfokus pada sejauh mana kompetensi peserta didik dalam menghafal materi ilmu
pengetahuan dan memprodusir kembali .
Padahal tugas sekolah jauh melampaui itu semua. Mungkin tugas-tugas dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1.
Tugas yang terkait dengan ranah kognitif atau pengetahuan.
Yaitu tugas sekolah memperkenalkan
peserta didik dan mengajarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar
dari ilmu pengetahuan kepada mereka sehingga mereka mampu memahami dan mencermati isinya
sesuai standar ketuntasan yang dikehendaki ,baik kemampuan verbal
menghafal dan memahami atau memahami
tanpa menghafal, kepandaian menginduksikan , menyimpulkan,menganalogkan,
mengetahui keumuman genelarisai kaidah pengetahuan atau kekhususannya dan berbagai hal yang
berhubungan aspek ketuntasan .
2.
Tugas praktis
Sebagaimana diketahui bahwa
aspek kognitif/pengetahuan bukan menjadi tujuannya sendiri melainkan hanya sebuah media alat dari sebuah
implementasi yang benar.Ilmu tanpa diimplementasikan secara nyata tidak ada nilai sama sekali dan tidak ada
buahnya.Anak didik yang mempelajari persoalan ibadah syar’iyyah yang tidak bila melaksanakan baik dalam keyakinan dan
kenyataan kongkit, sesungguhnya ilmunya
itu tidak ada nilainya sama sekali sebaliknya hanya usaha jerih payah dan hujjah yang menyengsarakan anak
didik.Demikian juga dokter yang tidak bisa menerapkan apa yang dipelajarinya, Insiyur yang tidak
bisa melaksanakan pekerjaannya sesuai apa yang dipelajarinya , sesungguhnya itu
hanya usaha yang tidak ada hasilnya , ilmu tanpa buah . Dari sini muncul
peran tugas aplikasi –praktis yang tercermin dalam tugas dan fungsi ke dua
sekolah .
Tugas aplikasi –praktis
ini meliputi dua hal ;
1.
Tugas takholliyah atau pembebasan dan melepaskan , yaitu
melepaskan dan membebaskan anak didik
dari kebodohan dan penyimpangan baik dalam aspek aqidah, ibadah maupun aspek
moral akhlak, pola berfikir dan aspek profesi pekerjaan.
2.
Tugas tahalliyah yaitu tugas
mendidik anak didik pada berbagai
kebaikan baik dalam akidahnya,
ibadahnya, akhlaknya , pekerjaan
penerapan secara praktis bukan
teoritis.
Orang yang berfikir faktor
degradasi pengajaran dan pembelajaran
pada sekolah-sekolah di dunia Islam akan mendapatinya bersumber dari
kurangnya memahami tugas-tugas dan
fungsi sekolah, keterbasan metode dan kurikulum
, penyediaan guru-guru yang kurang bagus,
Prinsip-prinsip dasar sekolah.
Sekolah berdiri pada empat faktor utama , berhasil atau gagal
tergantung berhasil tidaknya empat faktor tersebut yaitu :
1.
Guru pengajar.
2.
Kurikulum
3.
Kegiatan pembelajaran
4.
Administrasi sekolah.
[1] ) Ustadz
Muhammad Mubarok , majalah al Ba’ats Islamy (jilid 21 edisi 10 hal .32
terbit di nadwa ulama India.
[2] ) Dalam
berbagai buku ilmu pengetahuan alam anda
dapati seperti pernyataan mereka bahwa
alam memberikan manusia potensi- potensi ini
dan kesiapan dan kesanggupan ini dan itu.
[3]
).............
No comments:
Post a Comment