Thursday, November 1, 2018

TEACHING AND LEARNING ACTIVITES


FASAL KE DELAPAN
Teaching and Learning Activies
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Kegiatan belajar mengajar menempati posisi jantung kurikulum. Karena ia mempunyai pengaruh besar dalam membentuk pengalaman  anak didik.Karena dari sanalah prilakunya dapat dirubah dan diperbaiki. Atau dengan kata lain, ia dapat dididik.Kegiatan belajar mengajarlah , dan bukan konten /isi,  yang menjadi media instrument  mewujudkan tujuan-tujuan pembelajaran.
Bila tujuan akan menjawab pertanyaan,”Untuk  apa kita belajar ?” Isi /konten sebagai jawaban  pertanyaan  apa yang akan kita pelajari  ? Maka Kegiatan Belajar mengajar (KBM)  merupakan jawaban atas pertanyaan,” Bagaimana kita mengajarkan dan belajar.
Tujuan pembelajaran dan isi yang baik tidak mesti berarti banyak, jika tidak muncul dari ide pemikiran agar para peserta didik meraih berbagai pengalaman edukatif yang diharapkan.
Sedikit sekali KBM  konvensional dan  klasik, dapat  mendukung banyak dalam proses KBM di berbagai sekolah.Hal itu karena KBM sedimikian masih bertumpu sepenuhnya pada kurikulum berbasis bahan/materi –materi pelajaran, yang masih berlaku di berbagai sekolah tersebut.KBM berbasis  guru-sentris sedemikian yang hanya bertumpu pada olah bahasa, menjelaskan materi (Methode ceramah), sementara   peserta didik hanya berkewajiban mendengar,membaca, memperdengarkan, atau menjawab  pertanyaan-pertanyaan guru. Cara ini sering disebut method ( Ceramah, mengafal ,- memperdengarkan).
Kegiatan –kegiatan sedemikian ini memang sangat produktif dan berguna dalam proses pembelajaran., telah digunakan. diujicobakan dan akan terus digunakan dalam proses belajar - mengajar.
Tetapi yang perlu ditolak adalah bertumpu sepenuhnya pada  kegiatan pembelajaran – “guru sentris .” Karena kegiatan pembelajaran sedemikian hanya merupakan salah satu dari sekian puluhan kegiatan pembelajaran  yang mana perencanaan kurikulum,guru dan semua peserta didik yang dikontruksikan mesti didasarkan padanya dan mengenalnya.
Disamping kegiatan pembelajaran sedemikian hanya terfokus  - kegiatan menyampaikan ,mengeksplor informasi pengetahuan.Dan ternyata pemakaian kegiatan dengan ini semata pengaruhnya sangat lemah pada aspek affektif /sikap  prilaku anak didik. Padahal sekira  anak didik mendapatkan makna atau guna manfaat  pada  informasi pengetahuan  maka ia dapat memadukannya  dengan pengalamannya sendiri yang dapat membantu merekonstruksi kembali  pengalaman-pengalaman ini dan banyak memberi konstribusi  upaya merubah prilakunya.
  KBM mungkin dapat didefinisikan sebagai setiap kegiatan yang dilaksanakan guru atau anak didik  atau kedua pihak atau tutor kunjungan atau seorang spesialis ahli  untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan atau pembelajaran serta merealisir perkembangan anak didik secara menyeluruh (aspek kognitif, aspek psikomotorik dan affektif), baik di dalam kelas( in door) maupun di luar kelas (out door), di dalam lingkuran sekolah atau luar sekolah sepanjang dilaksanakan dibawah bimbingan dan pengawasan sekolah.
Definisi KBM yang luas lagi kompherhensif ini mencakup baik kegiatan-kegiatan individual maupun kelompok/kolektif, kegiatan belajar verbal maupun kegiatan non verbal, kegiatan untuk menggali informasi,atau yang ditujukan untuk mengembangkan pola dan cara berfikir, mengembangkan ketrampilan /kemampuan motorik maupun yang ditujukan untuk mewujudkan tujuan-tujuan  pendidikan dari aspek karakter anak didik)
Perluasan pemahaman makna KBM  dan variasinya ini membuat upaya memilih dan prioritasi kegiatan  yang benar sangat penting dan dibutuhkan.Hal yang menjadi focus pertimbangan prioritasi kegiatan ini adalah pengelolaan kegiatan untuk satu tujuan atau lebih dari tujuan-tujuan kurikulum, tujuan standar kompetensi (SK), tujuan kompetensi dasar (KD). Salah satu cara menguatkannya adalah dengan mendata tujuan-tujuan  lalu kegiatan-kegiatan yang mungkin atau yang layak diusulkan dan mengaitkan kegiatan dengan tujuan. Dan jika kegiatan tersebut tidak menghasil salah satu dari tujuan-tujuan tersebut, maka tidak ada ruang baginya dalam proses pembelajaran.


KLASIFIKASI KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR


KBM diklasifikasikan ke dalam berbagai macam klasifikasi sesuai dengan tujuan atau alat ukur yang digunakan. Kami akan tuturkan sebagainnya sebagai berikut :
I.                   Klasifikasi  berdasarkan kemiripan kegiatan dengan realitas  ataupun kegiatan bersifat abstraktif atas realitas. (klasifikasi dan stratifikasi kegiatan atas realisti dan abstraksif)
Barangkali jenis klasifikasi ini yang terpopuler adalah klasifikasi Edgar Dale yang dia gambarkan dengan bagan kerucut pengalaman (Code of Experience) (lihat bagan 1-8) dimana terdapat di dalamnya kegiataan yang mirip dengan realitas   dan kegiatan yang mirip bagian dari realitas . Jika kita melihat berturut dari bawah hingga ke puncak kerucut,maka kegiatan-kegiatan dan pengalaman  yang diperoleh para peserta didik semakin lebih bersifat abstak.




 


                            
                                 Symbol kata
           
                Simbul visual
                                                                               Rekaman –radio  atau
                                                                                gambar tak berger
                                                      Televisi
                                 Pertunjukan/display
                                   Kunjungan lapangan
                     
                                        Unjuk Kerja
                      
                              Pengalaman disetarakan

                      Pengalaman langsung konstruktif



Kerucut terbagi menjadi sebelas tingkat.Berawal dari tingkat  dasar kerucut dengan pengalaman-pengalaman langsung  yang konstruktif dimana anak didik berinteraksi langsung dengan fakta kenyataan.Berikut tingakatan pengalaman-pengalaman muaddalah (yang disetarakan) (contrived experience) dimana tabiat anak didik akan cenderung meniru contoh-contoh yang tetap maupun yang dinamis /bergerak.Tingkatan ketiga adalah tingkatan pengalaman bermain peran atau drama. Kegiatan-kegiatan berturut-turut dan berjenjang   semakin lebih cenderung bersifat kegiatan abstrak. Hingga ke tingkatan yang lebih bersifat abstraksi, yaitu tingkatan  kegiatan symbol kata   yang terefleksikan dalam bentuk bahasa baik bahasa ucapan maupun tulisan.
2. Klasifikasi berdasarkan tempat pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan terkadang dilaksanakan di dalam kelas (in door) atau di luar kelas (out door).
a.       Kegiatan yang diselenggaran di dalam ruang kelas (in  door).
Kegiatan ini   meliputi kegiatan ceramah, penjelasan teoritis, diskusi, bertanya, menjawab, menyaksikan, mendengar, memecahkan masalah, mendalami masalah, mengomentari, menemukan (inquiri), mencoba (eksperimen,) bermain peran atau drama, meniru realitas.
b.      Kegiatan bebas di luar kelas (out door)
Bermain, bermain peran/drama, progam kegiatan sekolah, belajar mandiri, kegiatan kolektif.
3. Klasifikasi berdasar kapasitas jumlah peserta kegiatan;
Terkadang kegiatan pembelajaran diikuti kelompok besar  atau kelompok kecil  atau dilaksanakan oleh perindividu anak didik.
a.       Kegiatan pembelajaran yang diikuti kelompok besar dari peserta didik.
Kegiatan ini meliputi :
·         diskusi  kelas yang diikuti seluruh siswa sekelas.
·          mendengar penjelasan guru
·          menyaksikan film,
·          menonton  unjuk kerja.
b.      Kegiatan pembelajaran dengan kelompok peserta dengan jumlah kecil.
Kegiatan ini mencakup :
·         Kelompok-kelompok  kerja  yang dirancang untuk satu unit pelajaran.
·         Keikutsertaan dalam merancang satu perencanaan atau sebagian darinya.
·         Mengunjungi pabrik.
·         Mengkliping bahan-bahan berita atau makalah dari surat kabar atau majalah.
·         Menyiapkan majalah dinding.
·         Mencari tahu pada sebagian orang tentang suatu masalah atau tema subjek persoalan tentu.
·         Mengevaluasi tugas pada satu unit kompetensi atau tugas.
C. Kegiatan yang dilaksanakan perorangan /secara individual.
     Contohnya antara lain :
·         Melaksanakan penelitian mandiri baik dengan menggunakan fasilitas perpustakaan atau laboratorium.
·         Membuat produk tertentu.
·         Merekam atau mendokumentasikan sebagian kegiatan baik secara auditu- visual maupun dengan kata-kata.
·         Mengarang cerita atau merangkai syair/ puisi.
·         Menyiapkan rencana untuk waktu tertentu dan anggaran pelaksanaannya.
4. Klasifikasi berdasarkan endra yang digunakan dalam kegiatan :
a.    Kegiatan auditory
·         Mendengar rekaman music,sandiwara dari rekaman kaset  atau radio.
·         Mendengarkan laporan-laporan yang disajikan peserta didik lain.
b.     Kegiatan visual.
·         Menonton tayangan gambar-gambar nyata atau film DVD.
·         Mengunjungi  galleri seni, stand  industry, stand pertanian, stand ilmiah atau stand sejarah.
c.     Kegiatan vocal.
·         Menyanyi, melagukan lagu.
·         Berpidato.
·         Menyampaikan syair atau puisi.
·         Berpartisipasi dalam diskusi atau seminar.
d.        Kegiatan Kinetik.
·         Membuat bel.
·         Melaksanakan eksperimen (percobaan).
·         Berpartisipasi dalam berbagai permainan, latihan atau berbagai kegiatan kinetik.
5. Klasifikasi Kegiatan pembelajaran berdasarkan tujuan :
Kegiatan dari aspek tujuannya yang hendak direalisasikannya terklasifikasi kedalam berbagai jenis. Antara lain :
a.       Kegiatan yang diorientasikan untuk menggali informasi
Contohnya antara laian :
·         Membaca buku dan berbagai varian bahan bacaan.
·         Mencari referensi sumber-sumber informasi primer  dan dokumen-dokumen autentik.
·         Mendengarkan ceramah, seminar atau menghadiri konferensi atau works shop.
·         Kontak personal dengan sumber informasi.
·         Melakukan kegiatan korenspondensi dengan orang-orang tertentu atau pusat-pusat informasi.
·         Mendapatkan informasi  lewat penelitian lapangan yang direncanakan.
b.      Kegiatan yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan motorik /ketrampilan motorik.
·         Pelatihan  mencetak dengan alat percetakan
·         Pelatihan mengoperasikan  berbagai contoh peralatan.
·         Latihan melakukan tugas /pekerjaan  dibawah bimbingan dan arahan.
·         Menyiapkan bentuk –bentuk  benda
C.       Kegiatan yang ditujukan untuk membantu  mewujudkan tujuaan-tujuan instingtif dan kehalusan perasaan.
Contoh kegiatan ini antara lain :
·         Membacakan syair atau puisi, kisah atau cerita bergambar (komik ) yang menghimbur.
·         Mengunjungi gallery  seni.
·         Mengambil bagian peran dalam kegiatan sandiwara dan drama.
·         Berpartisipasi  dalam club music  atau drama.
D.  Kegiatan yang diorientasikan untuk membantu membentuk konsep pemahaman dan genelarisasi.
Contoh kegiatan ini antara lain :
·         Kegiatan induktif untuk mencapai kaidah, dan prinsip-prinsip dasar pengetahuan.
·         Menyaksikan aplikasi dan penerapan konsep-konsep  pengetahuan dalam kehidupan.
·         Mendiskripsikan  pola piker kehidupan di beberapa Negara atau bangsa lewat bacaan, menonton film, meneliti foto atau gambar  atau mendengarkan  ceramah-ceramah,mengamati plamfet-planfet ataua berbagai publikasi yang diterbitkan oleh berbagai dinas kebudayaan dan informasi.
6. Klasifikasi kegiatan pembelajaran berdasarkan tindakan atau proses.
            Wheller menuturkan bahwa Mossman merumuskan kegiatan belajar mengajar  dalam bentuk tindakan-tindakan dan proses yang akan dilaksanakan peserta didik sebagai berikut :
1.      Menemukan (inquiri),mengujicoba (experiment), mendalami, meneliti, merenung, mengidentifikasi, menilai (assessment), meneliti, mempertanyakan, mendasarkan dalil pada dan mempelajari.
2.      Merubah,berkreasi,mengusulkan,mengkontruksikan,mengimajinasikan,merencanakan, mengatur, memikirkan serta memulai.
3.      Mengusulkan, bekerja sama , tolong menolong, membantu, mendiskusikan,menolak, menyampaikan laporan, berpartisipasi
4.      Memutuskan,melakukan, menyimpulkan, mengikhtisarkan, merumuskan.
5.      Mendengarkan atau menyimak, menerima, terpengaruh (menyesuaikan diri dengan), memedomani, menyimak.
6.      Mendokumentasikan, menggambar, menulis,mengekspresikan,  melukis dengan minyak cat, memahat.
7.      Bermain, bernyanyi.
8.      Mengulang-mengulangi, berlatih,
9.      Mentaati, mengikuti ajaran dan menyikapi..
10.    Mendektekan, mengharakati, mengatur dan menyusun.



MEMILIH KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (PRIORITASI KEGIATAN)

Kita lihat dalam  bahasan terdahulu keragaman dan variasi  kegiatan belajar mengajar, suatu persoalan  yang melandasi untuk membuat  kaidah-kaidah, norma dan prinsip-prinsip dasar serta parameter dalam memilihi kegiatan – kegiatan itu sendiri tersebut.Diantara prinsip –prinsip dasar prioritasi kegiatan ini antara lain :
1, Parameter Burton.
Burton berpendapat bahwa jika suatu kegiatan pembelajaran diusulkan maka usulan demikian tidak akan diterima  kecuali memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a.       Para peserta didik memandang sepenuhnya bahwa kegiatan itu mungkin digunakan untuk mewujudkan tujuan-tujuan mereka.
b.      Guru menilai serupa bahwa kegiatan tersebut memungkinkan mengantarkan anak didik pada tujuan-tujuan yang dia inginkan.
c.       Kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan tingkat kematangan para peserta didik, meski sekira ada sebagian yang menantang kemampuan mereka tetapi tidak menutup kemungkinan bisa mereka laksanakan, dan membawa mereka untuk mempelajari informasi yang baru atau memberi kesempatan mereka untuk menerapkan sebagian pengetahuan yang telah mereka pelajari.
d.      Memungkinkan untuk diaplikasikan  sesuai dengan batas-batas potensi-potensi yang dimiliki sekolah dan masyarakat.
e.       Kegiatan tersebut harus dikombinasikan dengan jenis-jenis kegiatan pembelajaran lain guna mendukung  terciptanya perkembangan peserta didik secara menyeluruh.
f.       Harus mendukung mengatasi perbedaan-perbedaan individual dalam kelompok.
2. Tolok ukur Zais.
Zais berpendapat prioritasi /upaya memilih jenis KBM  harus berpijak pada tujuan-tujuan kurikulum, prinsip- prinsip dasarnya, isinya dan pengalaman peserta didik.
a.       Tujuan Kurikulum :
Kegiatan –kegiatan belajar mengajar  seyogjanya mendudung merealisasikan tujuan-tujuan ini. Maka sekira  diantara kegiatan tersebut menjadi factor yang dapat mengembangkan  kemampuan ketrampilan-ketrampilan motorik para peserta didik dalam memecahkan persoalan maka jenis kegiatan-kegiatan  ini sudah  sewajarnya difasilitasi.Bila diantaranya ada yang mendukung  perkembangan kemampuan ketrampilan motorik praktek demokrasi, sudah semestinya menyiapkan iklim kehidupan demokratis pula dan menyiapkan ruang kesempatan mengambil keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan dan policy secara demokratis pula.
Dan betapa indahnya  sekira  kegiatan ini dimanfaatkan untuk lebih dari satu tujuan.
Tugas  kelompok/kolektif memecahkan problematika kesehatan terkadang mendukung dalam hal sebagai berikut :
a.       Mengembangkan ketrampilan motorik  memecahkan masalah  semisal mengidentifikasi masalah, merumuskannya secara detail,mendiskripsikan atau  memberikan berbagai hypotesa (penilaian sementara),menghimpun data, dan menafsirkan, mengetahui korelasinya,  mencapai kemampuan melakukan genelarisasi, memilih diskripsi dan hipotesi dan  menyimpulkan hasil temuan.
b.      Mengembangkan  ketrampilan motorik  kerja kelompok mencermati proses kerja tersebut secara individual seperti perasaan social sens (perasaan bermasyarakat), melatih membuat rancangan perencanaan secara kooperatif, bagi tugas (job description),saling mengintegrasikan usaha dan kerja dan mengambil keputusan –keputusan secara demokratis.
c.       Mengembangkan nilai-nilai social yang  positip seperti   gotong royong, mau menerima masukan orang lain,  sharing pendapat, metode-methode demokratis.
Semua hasil (out put) sedemikian sangat mungkin dicapai lewat penugasan terencana (tugas terstruktur) disamping pengetahuan  yang diperoleh para peserta didik  hasilkan lewat interaksi dan bersentuhannya dengan konten atau isi kegiatan KBM itu sendiri.
2. Konsistensi pada dasar-dasar konstruksi kurikulum.
            Maksudnya bahwa kegiatan harus bermanfaat dalam :
a.       Membentuk visi pandang peserta didik yang tidak membuat stigma buruk  terhadap masyarakat dimana ia tinggal dan budaya dimana ia hidup.
b.      Membantu peserta didik memiliki keberanian mengkritik kondisi-kondisi social masyarakat  secara logis – konstruktif tanpa harus mengucilkan diri  dari masyarakat atau merasa asing dan termaginalkan  dari kehidupan mereka.
c.       Mendukung peserta didik memahami  kondisi kehidupan  semenjak dari yang ada disekitarnya (kepekaan social) dan peran dirinya dalam kehidupan.
d.      Memperluas cakrawala berfikir dan pengetahuan peserta didik.
e.       Menambah kematangan peserta didik dan menambah  pengalaman.
f.       Membantu peserta didik siap diubah.(ready to change) dan membantu beradaptasi dengan sedemikian.
3. Isi /konten kegiatan.
Setiap kegiatan memiliki isi atau konten baik berupa kegiatan membaca, memecahkan persoalan atau study tour.Maka apakah kegiatan itu bernilai dan berharga atau tidak layak untuk mencurahkan waktu,usaha dan biaya.
4. Pengalaman peserta didik.
Kegiatan –kegiatan pembelajaran  memiliki makna /guna yang bisa dimengerti peserta didik.Hal ini dapat dibantu lewat keberadaan kegiatan-kegiatan tersebut harus dalam lingkup pengalamannya dengan segala makna dan fungsi kegunaannya  sebagai berikut :
a.       Pengalaman sebagai kemampuan.
Biasanya pengalaman sedemikian,rencana kurkulum sangat berlebihan dalam mengukur kemampuan (ability) para peserta didik lebih dari

No comments:

Post a Comment