FASAL
KE DELAPAN
Teaching
and Learning Activies
Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM)
Kegiatan
belajar mengajar menempati posisi jantung kurikulum. Karena ia mempunyai
pengaruh besar dalam membentuk pengalaman
anak didik.Karena dari sanalah prilakunya dapat dirubah dan diperbaiki.
Atau dengan kata lain, ia dapat dididik.Kegiatan belajar mengajarlah , dan
bukan konten /isi, yang menjadi media
instrument mewujudkan tujuan-tujuan
pembelajaran.
Bila
tujuan akan menjawab pertanyaan,”Untuk apa kita belajar ?” Isi /konten sebagai
jawaban pertanyaan apa yang akan kita pelajari ? Maka Kegiatan Belajar mengajar (KBM) merupakan jawaban atas pertanyaan,” Bagaimana
kita mengajarkan dan belajar.
Tujuan
pembelajaran dan isi yang baik tidak mesti berarti banyak, jika tidak muncul
dari ide pemikiran agar para peserta didik meraih berbagai pengalaman edukatif
yang diharapkan.
Sedikit
sekali KBM konvensional dan klasik, dapat
mendukung banyak dalam proses KBM di berbagai sekolah.Hal itu karena KBM
sedimikian masih bertumpu sepenuhnya pada kurikulum berbasis bahan/materi
–materi pelajaran, yang masih berlaku di berbagai sekolah tersebut.KBM berbasis
guru-sentris sedemikian yang hanya
bertumpu pada olah bahasa, menjelaskan materi (Methode ceramah), sementara peserta didik hanya berkewajiban
mendengar,membaca, memperdengarkan, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Cara ini sering
disebut method ( Ceramah, mengafal ,- memperdengarkan).
Kegiatan
–kegiatan sedemikian ini memang sangat produktif dan berguna dalam proses
pembelajaran., telah digunakan. diujicobakan dan akan terus digunakan dalam
proses belajar - mengajar.
Tetapi
yang perlu ditolak adalah bertumpu sepenuhnya pada kegiatan pembelajaran – “guru sentris .”
Karena kegiatan pembelajaran sedemikian hanya merupakan salah satu dari sekian
puluhan kegiatan pembelajaran yang mana
perencanaan kurikulum,guru dan semua peserta didik yang dikontruksikan mesti
didasarkan padanya dan mengenalnya.
Disamping
kegiatan pembelajaran sedemikian hanya terfokus
- kegiatan menyampaikan ,mengeksplor informasi pengetahuan.Dan ternyata pemakaian
kegiatan dengan ini semata pengaruhnya sangat lemah pada aspek affektif
/sikap prilaku anak didik. Padahal
sekira anak didik mendapatkan makna atau
guna manfaat pada informasi pengetahuan maka ia dapat memadukannya dengan pengalamannya sendiri yang dapat
membantu merekonstruksi kembali
pengalaman-pengalaman ini dan banyak memberi konstribusi upaya merubah prilakunya.
KBM
mungkin dapat didefinisikan sebagai setiap kegiatan yang dilaksanakan guru atau
anak didik atau kedua pihak atau tutor
kunjungan atau seorang spesialis ahli
untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan atau pembelajaran serta
merealisir perkembangan anak didik secara menyeluruh (aspek kognitif, aspek
psikomotorik dan affektif), baik di dalam kelas( in door) maupun di luar kelas
(out door), di dalam lingkuran sekolah atau luar sekolah sepanjang dilaksanakan
dibawah bimbingan dan pengawasan sekolah.
Definisi
KBM yang luas lagi kompherhensif ini mencakup baik kegiatan-kegiatan individual
maupun kelompok/kolektif, kegiatan belajar verbal maupun kegiatan non verbal,
kegiatan untuk menggali informasi,atau yang ditujukan untuk mengembangkan pola
dan cara berfikir, mengembangkan ketrampilan /kemampuan motorik maupun yang
ditujukan untuk mewujudkan tujuan-tujuan
pendidikan dari aspek karakter anak didik)
Perluasan
pemahaman makna KBM dan variasinya ini
membuat upaya memilih dan prioritasi kegiatan yang benar sangat penting dan dibutuhkan.Hal yang
menjadi focus pertimbangan prioritasi kegiatan ini adalah pengelolaan kegiatan
untuk satu tujuan atau lebih dari tujuan-tujuan kurikulum, tujuan standar
kompetensi (SK), tujuan kompetensi dasar (KD). Salah satu cara menguatkannya
adalah dengan mendata tujuan-tujuan lalu
kegiatan-kegiatan yang mungkin atau yang layak diusulkan dan mengaitkan
kegiatan dengan tujuan. Dan jika kegiatan tersebut tidak menghasil salah satu
dari tujuan-tujuan tersebut, maka tidak ada ruang baginya dalam proses
pembelajaran.
KLASIFIKASI
KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR
KBM
diklasifikasikan ke dalam berbagai macam klasifikasi sesuai dengan tujuan atau
alat ukur yang digunakan. Kami akan tuturkan sebagainnya sebagai berikut :
I.
Klasifikasi berdasarkan
kemiripan kegiatan dengan realitas ataupun
kegiatan bersifat abstraktif atas realitas. (klasifikasi dan stratifikasi
kegiatan atas realisti dan abstraksif)
Barangkali
jenis klasifikasi ini yang terpopuler adalah klasifikasi Edgar Dale yang dia
gambarkan dengan bagan kerucut pengalaman (Code of Experience) (lihat bagan
1-8) dimana terdapat di dalamnya kegiataan yang mirip dengan realitas dan kegiatan yang mirip bagian dari
realitas . Jika kita melihat berturut dari bawah hingga ke puncak
kerucut,maka kegiatan-kegiatan dan pengalaman
yang diperoleh para peserta didik semakin lebih bersifat abstak.
![]() |
Symbol kata
Simbul visual
Rekaman
–radio atau
gambar tak
berger
Televisi
Pertunjukan/display
Kunjungan lapangan
Unjuk Kerja
Pengalaman disetarakan
Pengalaman langsung konstruktif
Kerucut terbagi
menjadi sebelas tingkat.Berawal dari tingkat
dasar kerucut dengan pengalaman-pengalaman langsung yang konstruktif dimana anak didik
berinteraksi langsung dengan fakta kenyataan.Berikut tingakatan pengalaman-pengalaman
muaddalah (yang disetarakan) (contrived experience) dimana tabiat anak didik
akan cenderung meniru contoh-contoh yang tetap maupun yang dinamis
/bergerak.Tingkatan ketiga adalah tingkatan pengalaman bermain peran atau
drama. Kegiatan-kegiatan berturut-turut dan berjenjang semakin lebih cenderung bersifat kegiatan
abstrak. Hingga ke tingkatan yang lebih bersifat abstraksi, yaitu
tingkatan kegiatan symbol kata yang terefleksikan dalam bentuk bahasa baik
bahasa ucapan maupun tulisan.
2. Klasifikasi berdasarkan tempat
pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan terkadang dilaksanakan di dalam kelas (in door) atau di
luar kelas (out door).
a.
Kegiatan yang diselenggaran di dalam ruang kelas (in door).
Kegiatan ini meliputi
kegiatan ceramah, penjelasan teoritis, diskusi, bertanya, menjawab, menyaksikan,
mendengar, memecahkan masalah, mendalami masalah, mengomentari, menemukan
(inquiri), mencoba (eksperimen,) bermain peran atau drama, meniru realitas.
b.
Kegiatan bebas di luar kelas (out door)
Bermain,
bermain peran/drama, progam kegiatan sekolah, belajar mandiri, kegiatan
kolektif.
3. Klasifikasi berdasar kapasitas
jumlah peserta kegiatan;
Terkadang kegiatan pembelajaran diikuti kelompok besar atau kelompok kecil atau dilaksanakan oleh perindividu anak
didik.
a.
Kegiatan pembelajaran yang diikuti kelompok besar dari peserta
didik.
Kegiatan ini
meliputi :
·
diskusi kelas yang diikuti
seluruh siswa sekelas.
·
mendengar penjelasan guru
·
menyaksikan film,
·
menonton unjuk kerja.
b.
Kegiatan pembelajaran dengan kelompok peserta dengan jumlah kecil.
Kegiatan
ini mencakup :
·
Kelompok-kelompok kerja yang dirancang untuk satu unit pelajaran.
·
Keikutsertaan dalam merancang satu perencanaan atau sebagian
darinya.
·
Mengunjungi pabrik.
·
Mengkliping bahan-bahan berita atau makalah dari surat kabar atau
majalah.
·
Menyiapkan majalah dinding.
·
Mencari tahu pada sebagian orang tentang suatu masalah atau tema
subjek persoalan tentu.
·
Mengevaluasi tugas pada satu unit kompetensi atau tugas.
C. Kegiatan yang dilaksanakan
perorangan /secara individual.
Contohnya antara lain :
·
Melaksanakan penelitian mandiri baik dengan menggunakan fasilitas
perpustakaan atau laboratorium.
·
Membuat produk tertentu.
·
Merekam atau mendokumentasikan sebagian kegiatan baik secara
auditu- visual maupun dengan kata-kata.
·
Mengarang cerita atau merangkai syair/ puisi.
·
Menyiapkan rencana untuk waktu tertentu dan anggaran
pelaksanaannya.
4. Klasifikasi berdasarkan endra
yang digunakan dalam kegiatan :
a.
Kegiatan auditory
·
Mendengar rekaman music,sandiwara dari rekaman kaset atau radio.
·
Mendengarkan laporan-laporan yang disajikan peserta didik lain.
b.
Kegiatan visual.
·
Menonton tayangan gambar-gambar nyata atau film DVD.
·
Mengunjungi galleri seni,
stand industry, stand pertanian, stand
ilmiah atau stand sejarah.
c.
Kegiatan vocal.
·
Menyanyi, melagukan lagu.
·
Berpidato.
·
Menyampaikan syair atau puisi.
·
Berpartisipasi dalam diskusi atau seminar.
d.
Kegiatan Kinetik.
·
Membuat bel.
·
Melaksanakan eksperimen (percobaan).
·
Berpartisipasi dalam berbagai permainan, latihan atau berbagai
kegiatan kinetik.
5. Klasifikasi
Kegiatan pembelajaran berdasarkan tujuan :
Kegiatan dari aspek tujuannya yang hendak direalisasikannya
terklasifikasi kedalam berbagai jenis. Antara lain :
a.
Kegiatan yang diorientasikan untuk menggali informasi
Contohnya
antara laian :
·
Membaca buku dan berbagai varian bahan bacaan.
·
Mencari referensi sumber-sumber informasi primer dan dokumen-dokumen autentik.
·
Mendengarkan ceramah, seminar atau menghadiri konferensi atau works
shop.
·
Kontak personal dengan sumber informasi.
·
Melakukan kegiatan korenspondensi dengan orang-orang tertentu atau
pusat-pusat informasi.
·
Mendapatkan informasi lewat
penelitian lapangan yang direncanakan.
b.
Kegiatan yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan motorik
/ketrampilan motorik.
·
Pelatihan mencetak dengan
alat percetakan
·
Pelatihan mengoperasikan berbagai contoh peralatan.
·
Latihan melakukan tugas /pekerjaan
dibawah bimbingan dan arahan.
·
Menyiapkan bentuk –bentuk benda
C.
Kegiatan yang ditujukan untuk membantu mewujudkan tujuaan-tujuan instingtif dan
kehalusan perasaan.
Contoh
kegiatan ini antara lain :
·
Membacakan syair atau puisi, kisah atau cerita bergambar (komik )
yang menghimbur.
·
Mengunjungi gallery seni.
·
Mengambil bagian peran dalam kegiatan sandiwara dan drama.
·
Berpartisipasi dalam club
music atau drama.
D.
Kegiatan yang diorientasikan untuk membantu membentuk konsep
pemahaman dan genelarisasi.
Contoh
kegiatan ini antara lain :
·
Kegiatan induktif untuk mencapai kaidah, dan prinsip-prinsip dasar
pengetahuan.
·
Menyaksikan aplikasi dan penerapan konsep-konsep pengetahuan dalam kehidupan.
·
Mendiskripsikan pola piker
kehidupan di beberapa Negara atau bangsa lewat bacaan, menonton film, meneliti
foto atau gambar atau mendengarkan ceramah-ceramah,mengamati plamfet-planfet
ataua berbagai publikasi yang diterbitkan oleh berbagai dinas kebudayaan dan
informasi.
6. Klasifikasi
kegiatan pembelajaran berdasarkan tindakan atau proses.
Wheller menuturkan bahwa Mossman
merumuskan kegiatan belajar mengajar
dalam bentuk tindakan-tindakan dan proses yang akan dilaksanakan peserta
didik sebagai berikut :
1.
Menemukan (inquiri),mengujicoba (experiment), mendalami, meneliti,
merenung, mengidentifikasi, menilai (assessment), meneliti, mempertanyakan,
mendasarkan dalil pada dan mempelajari.
2.
Merubah,berkreasi,mengusulkan,mengkontruksikan,mengimajinasikan,merencanakan,
mengatur, memikirkan serta memulai.
3.
Mengusulkan, bekerja sama , tolong menolong, membantu,
mendiskusikan,menolak, menyampaikan laporan, berpartisipasi
4.
Memutuskan,melakukan, menyimpulkan, mengikhtisarkan, merumuskan.
5.
Mendengarkan atau menyimak, menerima, terpengaruh (menyesuaikan
diri dengan), memedomani, menyimak.
6.
Mendokumentasikan, menggambar, menulis,mengekspresikan, melukis dengan minyak cat, memahat.
7.
Bermain, bernyanyi.
8.
Mengulang-mengulangi, berlatih,
9.
Mentaati, mengikuti ajaran dan menyikapi..
10.
Mendektekan, mengharakati, mengatur dan menyusun.
MEMILIH
KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (PRIORITASI KEGIATAN)
Kita lihat
dalam bahasan terdahulu keragaman dan
variasi kegiatan belajar mengajar, suatu
persoalan yang melandasi untuk membuat kaidah-kaidah, norma dan prinsip-prinsip
dasar serta parameter dalam memilihi kegiatan – kegiatan itu sendiri tersebut.Diantara
prinsip –prinsip dasar prioritasi kegiatan ini antara lain :
1, Parameter Burton.
Burton berpendapat bahwa jika suatu kegiatan pembelajaran diusulkan
maka usulan demikian tidak akan diterima
kecuali memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a.
Para peserta didik memandang sepenuhnya bahwa kegiatan itu mungkin
digunakan untuk mewujudkan tujuan-tujuan mereka.
b.
Guru menilai serupa bahwa kegiatan tersebut memungkinkan
mengantarkan anak didik pada tujuan-tujuan yang dia inginkan.
c.
Kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan tingkat kematangan para
peserta didik, meski sekira ada sebagian yang menantang kemampuan mereka tetapi
tidak menutup kemungkinan bisa mereka laksanakan, dan membawa mereka untuk
mempelajari informasi yang baru atau memberi kesempatan mereka untuk menerapkan
sebagian pengetahuan yang telah mereka pelajari.
d.
Memungkinkan untuk diaplikasikan
sesuai dengan batas-batas potensi-potensi yang dimiliki sekolah dan
masyarakat.
e.
Kegiatan tersebut harus dikombinasikan dengan jenis-jenis kegiatan
pembelajaran lain guna mendukung
terciptanya perkembangan peserta didik secara menyeluruh.
f.
Harus mendukung mengatasi perbedaan-perbedaan individual dalam
kelompok.
2. Tolok ukur Zais.
Zais berpendapat prioritasi /upaya memilih jenis KBM harus berpijak pada tujuan-tujuan kurikulum,
prinsip- prinsip dasarnya, isinya dan pengalaman peserta didik.
a.
Tujuan Kurikulum :
Kegiatan –kegiatan belajar mengajar seyogjanya mendudung merealisasikan
tujuan-tujuan ini. Maka sekira diantara
kegiatan tersebut menjadi factor yang dapat mengembangkan kemampuan ketrampilan-ketrampilan motorik
para peserta didik dalam memecahkan persoalan maka jenis kegiatan-kegiatan ini sudah
sewajarnya difasilitasi.Bila diantaranya ada yang mendukung perkembangan kemampuan ketrampilan motorik
praktek demokrasi, sudah semestinya menyiapkan iklim kehidupan demokratis pula
dan menyiapkan ruang kesempatan mengambil keputusan-keputusan,
kebijakan-kebijakan dan policy secara demokratis pula.
Dan betapa indahnya
sekira kegiatan ini dimanfaatkan
untuk lebih dari satu tujuan.
Tugas kelompok/kolektif memecahkan problematika
kesehatan terkadang mendukung dalam hal sebagai berikut :
a.
Mengembangkan ketrampilan motorik
memecahkan masalah semisal mengidentifikasi
masalah, merumuskannya secara detail,mendiskripsikan atau memberikan berbagai hypotesa (penilaian
sementara),menghimpun data, dan menafsirkan, mengetahui korelasinya, mencapai kemampuan melakukan genelarisasi,
memilih diskripsi dan hipotesi dan
menyimpulkan hasil temuan.
b.
Mengembangkan ketrampilan
motorik kerja kelompok mencermati proses
kerja tersebut secara individual seperti perasaan social sens (perasaan
bermasyarakat), melatih membuat rancangan perencanaan secara kooperatif, bagi
tugas (job description),saling mengintegrasikan usaha dan kerja dan mengambil
keputusan –keputusan secara demokratis.
c.
Mengembangkan nilai-nilai social yang positip seperti gotong royong, mau menerima masukan orang
lain, sharing pendapat, metode-methode
demokratis.
Semua hasil
(out put) sedemikian sangat mungkin dicapai lewat penugasan terencana (tugas
terstruktur) disamping pengetahuan yang
diperoleh para peserta didik hasilkan
lewat interaksi dan bersentuhannya dengan konten atau isi kegiatan KBM itu
sendiri.
2. Konsistensi
pada dasar-dasar konstruksi kurikulum.
Maksudnya bahwa kegiatan harus
bermanfaat dalam :
a.
Membentuk visi pandang peserta didik yang tidak membuat stigma
buruk terhadap masyarakat dimana ia
tinggal dan budaya dimana ia hidup.
b.
Membantu peserta didik memiliki keberanian mengkritik
kondisi-kondisi social masyarakat secara
logis – konstruktif tanpa harus mengucilkan diri dari masyarakat atau merasa asing dan
termaginalkan dari kehidupan mereka.
c.
Mendukung peserta didik memahami
kondisi kehidupan semenjak dari
yang ada disekitarnya (kepekaan social) dan peran dirinya dalam kehidupan.
d.
Memperluas cakrawala berfikir dan pengetahuan peserta didik.
e.
Menambah kematangan peserta didik dan menambah pengalaman.
f.
Membantu peserta didik siap diubah.(ready to change) dan membantu
beradaptasi dengan sedemikian.
3. Isi /konten
kegiatan.
Setiap kegiatan
memiliki isi atau konten baik berupa kegiatan membaca, memecahkan persoalan
atau study tour.Maka apakah kegiatan itu bernilai dan berharga atau tidak layak
untuk mencurahkan waktu,usaha dan biaya.
4. Pengalaman
peserta didik.
Kegiatan
–kegiatan pembelajaran memiliki makna
/guna yang bisa dimengerti peserta didik.Hal ini dapat dibantu lewat keberadaan
kegiatan-kegiatan tersebut harus dalam lingkup pengalamannya dengan segala
makna dan fungsi kegunaannya sebagai
berikut :
a.
Pengalaman sebagai kemampuan.
Biasanya
pengalaman sedemikian,rencana kurkulum sangat berlebihan dalam mengukur
kemampuan (ability) para peserta didik lebih dari

No comments:
Post a Comment