Thursday, November 1, 2018

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM


FASAL KEEMPAT
TUJUAN  TARGET  PENDIDIKAN ISLAM DAN TUJUAANNYA
PENGERTIAN TUJUAN SYARAT  SYARAT DAN PERAN PENTINGNYA
PERTAMA  ; PENGERTIAN TUJUAN
Manusia terkadang terdorong berbuat dan bertindak tanpa  mengetahui tujuannya, karena ia punya naluri  senantiasa ingin tetap hidup. Maka aktivitas perbuatannya dilatar belakangi karena motiv ini  seperti orang yang tidur menarik tangganya saat ada orang lain hendak menusuknya dengan jarum  . Maka boleh dikatakan bahwa tindakan dan perbuatannya  senantiasa diiringi  dan dilatarbelakangi ingin mempertahankan hidup  /menjaga survivelnya meski ia tidak mengetahui tujuaannya.
Tetapi pada  umumnya dalam kehidupan orang  yang berakal cerdas dan memiliki kesadaraan  akan berfikir  dan bermaksud untuk tujuaan tertentu  yang hendak dia realisasikan  dibalik  semua tindakan dan perbuatannya. . Sepertu  siswa atau mahasiswa  giat  rajin  belajar selama setahun  pelajaran agar lulus  dalam ujian,  kemudian mendapatkan  gelar ilmiah,  kemudian memperoleh status  sosial tertentu  atau gaji finansiil  yang dapat mendukung penghidupannya.
Hasil  yang  dicapai siswa  ini bisa jadi  sinergi dengan tujuannya ,bisa  kurang  atau hanya merealisir sebagiannya. Dengan demikian jelaslah bagi   hasil  bukanlah tujuan dan motiv bukanlah target dan tujuan  akhir.
Hasil  adalah pencapaian yang terpancar dari  tindakan dan perbuatan yang dicapai oleh orang   baik  yang  mewujudkan tujuan atau tidak.  Sementara tujuan adalah target yang dibayangkan orang  yang  ia  taruh didepannya  , mengatur  tindakan untuk mewujudknya. Sementara  Motiv  adalah faktor  yang memotivasi dan menggerakkan anggota tubuh orang dan jiwanya  yang membangkitkan  berbuat dan bertindak atau  memberi asupan  energi  yang membangkitkan berbuat  dalam  diri  psikis dan phisik  menggerakkan dan mengaktifkannya   hingga mampu mewujudkan target  vital utamanya  baik ia ketahui atau tidak  lewat akal dan jiwanya.
Kedua  : Peran Pentingnya  penentuan tujuan dan pembatasannya.
Kalau seorang  diperintah berjalan di jalan tertentu tanpa  dijelasanya motiv nya atau memilih jalan ini bukan yang lain, niscaya ia akan berjalan penuh keraguaan  dan otomatis  dorongnya untuk berbuatpun menjadi lemah., dan senantiasa dibayang bayangi tanda tanya.
Namun  bila dikatakan, pada orang tersebut , berjalankan melewati  jalan ini niscaya anda dapati  di penghujung jalan tersebut  kebun taman yang indah  milik  sahabat-sahabatnya  yang mulia yang gemar mengundang  orang –orang yang  datang  untuk bersantap bersamanya  de.................dan pancuran –pancuran dan air terjun.  Sementara sosok orang tersebut  lagi lapar  dan siap  bersantap makana, niscaya  ia termotivasi  dengan suka ria dan senang hati dan penuh harap   dan menempun jalan itu dengan   dengan penuh energik  dan kemauan yang kuat sesingkat-singkat waktu  dan usaha.Tujuan jelas mengarahkan kegiatan   dan memotivasi  untuk mencapai kesuksesan   serta membantu  keberhasilan.

Ketiga.  TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
            Lantaran pendidikan Islam  adalah pendidikan  yang  dilakukan secara  sadar dan dan kontrukstif  bertujuan,  yang  Allah telah  menaruh prinsip –prinsip dasar nya dalam  syariatnya untuk  semua manusia , maka  adalah  keharusan bagi penelitinya untuk   menjelaskan  tujuannya yang  luhurnya lagi  holistis  sebagaimana yang Allah jelaskan  untuk semua lapisan manusia,  sebelum  menjelaskan methode pendidikannya dan ciri-ciri  khasnya.  Karena tujuan  lah yang membantu menentukan tujuan.Kalau kita  memperhatikan  prinsip-prinsip dasar  pendidikan Islam  dan konsepsi Islam  tentang alam  dan kehidupan  dan tujuan hidup niscaya kita dapati  sebagai berikut :
Sesungguhnya Allah menciptakan alam semesta  untuk tujuan tertentu  , menciptakan manusia di muka bumi  agar menjadi kholifah Allah pemakmur , merealisir ketaatan  kepada Allah  dan hidup berjalan mengambil petunjuknya ,. Allah menundukkan  segala yang ada di langit dan di bumi  untuk kepentinyannya . Ia jadikan  itu semua mengabdi  untuk kelangsungan hidup  manusia  dan mewujudkan kehidupannya.  Ia menuntut  manusia untuk merenung segala yang ada disementa untuk ia jadikan bukti atas keagungan Allah  . Hal inipun kemudian mendorognya untuk mentaati Allah  dan mencintainya patuh perintah-perintahnya  dan bermunajat  serta  menjadikannya  punya kesiapan untuk berbuat baik atau buruk. Allah juga mengutus para utusannya  kepada manusia  untuk membimbing  dan memberi petunjuk  mereka untuk beribadah kepadaNya dan mentauhidkannya.
Allah swt menjadikan bagi alam sementara  dan kehidupan ini  batas akhir  dalam waktu tertentu  kemudian  alam semesta inipun musnah dan kehidupan dunia inipun sirna . Kemudian Allah  menciptakan  manusia  dalam bentuk ciptaan baru. Dan menciptakan semesta baru  dengan maksud untuk memperhitungkan manusia atas segala amal perbuatannya   dan membalas yang berbuat buruk lagi mengkufuri nikmatnya  dan mengingkari para utusannya  serta syariatnya dengan neraka yang  abadi  dan yang berbuat baik  beriman kepada  Allah swt  mensyukuri nikmatNya  mengikuti RosulNya  dan kitabNya dengan kenikmatan syurga naim yang  kekal abadi selamanya.
Dari perspektif Islam tentan alam semesta ini  jelaslah bahwa tujuan pokok  eksistensi manusia di alam semesta ini untuk beribadah /menyembah  Allah dan patuh  taat kepadanya   dan menjadi kholifah di muka bumi guna memakmurkan bumi  lewat merealisarikan syariat Allah dan mentaatinya .Al Quran menjelaskan tujuan ini dalam Firman Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)
Artinya :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS. Dzariyat :56)
Apabila urgenitas manusia dalam hidup sedemikian  otomatis itu pulalah yang menjadi orientasi tujuan pendidikannya.Kerena pendidikan sebagaimana yang didefinisikan sebagai  bentuk  upaya mengembangkan  kemampuan berfikir manusia , mengatur  prilaku dan tindakannya serta perasaannya  atas dasar agama Islam.Dengan  demikian tujuan akhir  pendidikan Islam adalah mewujudkan ubudiyah (kehambaan diri ) kepada Allah  dalam kehidupan manusia  baik kehidupan individualnya maupun sosialnya
ISLAM DAN TUJUAN PENDIDIKAN BARAT
Namun pembatasan  pada tujuan sedemikian ini  tidak berarti  membatasi usaha manusia hanya  pada persoalan ibadah (ritual), masjid dan membaca Al Qura’an, sebagaimana yang  nampak sebagian orang  di awal mulanya.Karena ketaatan kepada Allah tidak terbatas hanya ritual dan aktivitas –aktivitas ibadah anscih sebaliknya  meliputi  segala aspek kehidupan .
            Dengan demikian semua tujuan pendidikan yang dipropagandakan pendidikan pendidikan barat saat ini  pada hakekatnya telah tercakup dalam  tujuan luhur pendidikan Islam ini yang  diorentasikan perspektif yang ideal  yang menjauhkannya dari bentuk penyimpangan atau kesalahan sehingga mampu berkhidmat  bagi  kemanusiaan  dan mewujudkan kebahagiaan  baik untuk individu maupun masyarakat.
Untuk menjelaskan hal tersebut , tidak boleh tidak kita mesti membeberkan masing-masing tujuan-tujuan ini  guna memperjelas pengertiannya dalam pendidikan barat  dan bagaimana realisasinya dalam pendidikan Islam.
1.ISLAM DAN TUJUAN PENDIDIKAN MENGEKSPRESIKAN DIRI.
   Diantara tokoh pendidikan yang beraliran tujuan pendidikan sedemikian adalah Sir Burshi nan . Ia berkata, dalam karyanya ‘Education”  bahwa ego (pengekspresian diri  ) adalah  tujuan tertinggi  luhur  dari pendidikan.Adalah  tidak ada kebaikan sama sekali  yang mungkin  didapati alam ini kecuali  lewat memberi  kebebasan beraktivitas  bagi semua individu –indivitu ; baik laki-laki maupun perempuan.Dan bahwa sesungguhnya pendidikan yang mengambil prinsip dasar mengekspresikan diri (mewujudkan ego) sebagai tujuan  itulah satu-satunya  pendidikan yang  sejalan dengan hukum –hukum alam dan dibuktikan dengan kebenaran-kebenaran  yang diperoleh dari ilmu kehidupan.
            Maksud dari tujuan ini adalah  bahwa masing-masing manusia  memiliki ego (diri) dan ciri –ciri  kharakteristik tersendiri yang membedakan dirinya dari orang lain.Pendidikan yang benar , menurut perspektif mereka adalah pendidikan yang memperhatikan pengekspresin karakteristik –karakteristik ini  lewat memberi  ruang kebebasan sebebas-bebasnya pada semua umat manusia, memberi kesempatan yang cukup memadai  dan situasi-situasi yang kondusif bagi  semua anak didik untuk dapat mengekspresikan  dirinya  dalam lingkungan sosial yang kondusif bagi semua orang.
KRITIKAN TERHADAP TUJUAN INI.
Ada dua hal yang perlu dikaji ulang dari tujuan ini ;
Pertama : Bahwa  kebebasan atau kebebasan beraktivitas  bagi semua individu  sebagai yang dinyatakan Bursi Nan  masih  perlu adanya batasan- batasan yang  menjaga individu individu dari keterperdayaan  dengan ke-ego-an dirinya, berbuat sewenang-wenang  terhadap orang lain atau penyalahgunaan  karakteristik dirinya  untuk berbuat kejahatan terhadap sesama atau merugikan masyarakat.
Bila setiap anak tumbuh dewasa menyakini sepenuhnya bahwa masyarakat  dan alam semesta kesemuanya  wahana untuk mengekspresikan dirinya tanpa adanya tujuan yang luhur  yang mengarahkan dan membimbing  potensi-potensinya, maka tipikal masyarakat bagaimanakah  yang dihasilkan pendidikan ini untuk kita ?
Tujuan yang luhur sedemikian belum pernah ditetapkan sama sekali  oleh para ahli pendidikan yang beraliran tujuan “ekspreonisme” meski Brusi nan telah mensinyalir  lewat pernyataannya, “ Adalah salah besar  orang yang berasumsi  bahwa teori  kami ini tidak memilah –milah antara nilai-nilai kebaikan   dan nilai nilai keburukan dalam kehidupan dan tidak  mampu membedakan mana ragam bentuk  ego-ego diri  yang mesti harus dimovitasi dan  mana ragam  ego diri yang mesti harus diredam.”
            Namun dia dalam pernyataannya yg diisyaratkan ini  tidak menyandarkan pada prinsip  dasar dan standar paramater baik dan buruk, sehingga  sekiranya ia membuat suatu prinsip dasar niscaya ia berselisih dengan para ahli pendidikan  dan para filosof  lain  dan manusia  akan terus berbeda. Untuk itu mesti tidak boleh tidak perlu adanya tolok ukur /parameter ilahi  yang disepakati bersama  dalam hal sedemikian ini, lantaran standar parameter –paramater orang satu sama lain berbeda beda sesuai kondisi sosial mereka , phisikis mereka  dan keluarga mereka  dan otomatis  satu dari sekian parameter  tidak layak menjadi standar pendidikan bagi semua manusia.
Adapun  bagaimana tujuan pendidikan Islam yaitu  memurnikan ibadah semata-mata untuk Allah swt.    Mencakup tujuan pengekspresian diri. Berikut penjelasannya
a.       Saat Allah membebankan  manusia beribadah dan menyembah kepadanya  Ia membebaninya atas dasar  prinsip bahwa ia mempu membedakan baik dan buruk . Disamping itu Allah juga  menjelaskan kepadanya konsekwensi dan akibat  jalan kebaikan yang dipilihnya  kelak di hari kiamat dan konsekwensi jalan kejahatan .Di sinilah terdapat apresiasi  bagi ego – diri  manusia. Karena Allah telah menjadikannya punya potensi diri  untuk membedakan dan memilih, yang berarti  memberi kebebasan memilih  kemudian menjelaskan kepadanya  tanggungjawab yang mesti dipertanggungjawabkan  atas pilihannya ini
b.      Bahwa Allah membukakan bagi semua orang seluas luasnya ruang berkompetisi ke arah kebajikan dan membuat prinsip dasar  balasan sesuai amal perbuatannya, bila baik akan memperoleh balasan baik dan bila buruk otomatis akan mendapat balasan buruk.Allah akan memperhitungkan amal perbuatan sekecil apapun meski sebesar bijih atom sekalipun , kemudian melipat gandakan  bagi siap yang Ia kehendaki, tidak ada diskualifikasi antara laki-laki dan perempuan  dan tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang ajam non arab  kecuali  karena ketakwaannya, yakni amal perbuatan yang  memanifestasikan  rasa takutnya terhadap adzab Allah, kekhusukan dan ketaatan kepada Allah.
c.       Bahwa Allah telah menjadikan tujuan luhur pendidikan  ( taat  kepada Allah dan beribadah kepadaNya)      sebagai tolok ukur  untuk membedakan  ego-ego yang baik dan ego-ego yang buruk dan parameter pembeda antara pengekspresian diri di jalan kebaikan  dan pengekspresian diri di jalan keburukan.Dan penjelasan – penjelasan secara panjang lebar  standar ini banyak tersebar di berbagai  karya kitab fiqih dan Tauhid serta dalam ayat-ayat Al Qur’an  dan hadist-hadist Nabi Saw.
Demikianlah Islam membiarkan  tujuan pengekpresian diri  dan kebebasan lepas tanpa batasan dan aturan. Sebaliknya  menilai tujuan ini sebagai media untuk tujuan yang lebih luhur darinya.
d.      Dalam beberapa ayat Al Qur’an dan Hadist Nabi dituturkan  urgenitas setiap orang  berbuat  sesuai  ...................potensi dan kesiapan dirinya. Seperti Firman Allah swt. Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, (QS. Al  A’la : 1-3)
Yakni  menentukan bagi setiap makhluk  kesiapan dan potensi spesifiknya  dan memberi  petunjuk  ke arah jalan hidup  yang akan mengekspresikan ego –dirinya /jati dirinya dan berbagai  kesiapannya.
Dan firman Allah : Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, ".
  Masyarakat Mukmin akan melihat  dan mengapresiasi  pekerjaan-pekerjaan  individu-individu nya ,memotivasi potensi dan kesiapan diri mereka serta membalasnya dengan ucapan syukur dan penuh apresiasi .
Dan sabda Rasulullah saw.
إعملوا فكل ميسر لما خلق له
Artinya :”Berbuat dan bekerjalah karena masing masing orang akan dimudahkan untuk tujuan  (profesi ) ia diciptakan. “
....................
Maksudnya sesungguhnya Allah swt.  menciptakan setiap makhluk  dan setiap manusia untuk tujuan tertentu atau tugas (profesi hidup ) tertentu dan membekalinya kemampuan-kemampuan dan kompetensi tertentu dan mempermudah  atau membukakan wahana ekspresi selebar-lebarnya   sesuai  dengan ego jati dirinya ,kompetensi dan kemampuannya.Oleh karena itu  Allah memerintahnya bekerja dan berusaha mewujudkan nilai-nilai luhur  sesuai dengan kemampuan dan ego /jati dirinya.
2. ISLAM DAN TUJUAN PERKEMBANGAN
    ARAHAN  ISLAM DALAM BERBAGAI ASPEK PENDIDIKAN
Sebagian ilmuawan pendidikan dan para filosof modern pendidikan  berpendapat bahwa tujuan satu-satunya dari pendidikan adalah  perkembangan; perkembangan  manusia dalam berbagai aspeknya baik aspek intelegensi, fisik maupun aspek spirituil maupun aspek sosialnya. Namun  pengertian perkembangan ini masih memerlukan penjelasan. Apakah perkembangan yang dimaksudkan semata mata bertambah kwantitas atau timbangannya atau pengetahuan-pengetahuannya  dan konsep-konsepnya ataupun yang dimaksud  perkembangan  kwalitas cara dan gaya hidup anak  semenjak lahir hingga dewasanya ? dari gerakan-gerakan fisiknya, sikap dan prilakuanya
Para ilmuawan pendidikan  saat ini sepakat  bahwa bertambahnya kwantitas semata bukanlah makna perkembangan yang menjadi tujuan pendidikan. Namun mereka berselisih  dalam hal pengembangan prilaku manusia.
a.       Sebagian mereka mengacu  pada reaksi sebagai  umpan baliknya .Mereka menjadikan manusia bak seperti  tempat kerja atau rumah produksi yang berkapasitas besar.Setiap kali satu tombol dari tombol –tombol yang ada ditekan  secara otomatis  salah satu alat dari alat alat tsb bergerak . Dan setiap alat akan menggerakkan dan mengaktifkan peralatan berikutnya, sehingga kemudian diakhir kalinya mampu memproduksi  hasil produksi, menghasilkan lemari es , mobil atau AC dll ke tangan konsumen..... Demikian tak  jauh berbeda dengan  manusia tiap kali memperoleh pengaruh eksternal  iapun berusaha  mengekspresikan atau mewujudkan nafsu syahwat dari keinginan syahwat-syahwatnya.
Cukup dimaklumi bahwa satu pengaruh eksternal  saja, seperti melihat makanan misalnya, akan memberi berbagai reaksi dan respon yang beragam.,seperti  sikap tak peduli dan rasa acuh tak acuh bagi orang yang lagi kekenyangan, sabar dan tabah menahan diri bagi yang sedang berpuasa dan rasa gensi  bagi orang yang jaga gengsi  yang tidak mendapati kecendrungan  yang cukup  pada macam makanan sedemikian ini.
b.      Kelompok kedua , menyatakan baawha manusia akan mengalami perkembangan yakni prilakunya akan berkembang karena pengaruh pengalaman-pengalaman yang terbentuk dalam dirinya.Taruhlah suatu contoh jika  seorang anak ada di antara keluarganya , ia mengotori bajunya yang masih baru dengan makanan misalnya niscaya mereka mencaci makinya,berbuat kasar padanya  dan memperlihatkan rasa emosi dan garang di hadapannya .suatu tindakan dan sikap yang  membuatnya mempertautkan di dalam akal fikirannya hubungan antara sakir hati dan mengotori baju baru.
Hubungan ini dinamai John Dewey pengalaman /experience, Bila pengalaman ini dalam contoh ini berasal dari masyarakat maka mungkin dapat kita namai pengalaman sosial  (social experience).
KRITIKAN TUJUAN PENDIDIKAN INI.
Tidak diragukan bahwa bahwa berturut-turutnya pengalaman  kemungkinan besar bis mengembangkan akal pikiran anak dan menjadikan prilakunya lebih dekat beradabtasi dengan masyarakat beserta  peradaban dan inovasi serta penemuan – penemuannya di samping situasi kondisi kehidupan dan tuntutan-tuntutannya.
Namun  tidaklah semua pengalaman sama  dalam mewujudkan kebaikan manusiawi, disamping  pula  tidak lah setiap perkembangan diorientasikan dan digunakan untuk kebaikan .sebagian geng-geng di Amerika mempergunakan pengalaman-pengalaman mereka dan perkembangan intelegensi dan ketrampilan skill mereka untuk membobol berbagai bank   atau  menculik tokoh-tokoh besar dan anak-anak dari orang-orang kaya untuk memperoleh tebusan.
Apakah hal sedemikian bisa dikategorikan tujuan pendidika? Hal sedemikian  dalam kebiasaan  geng-geng itu dianggap tujuan yang atas dasar itu mereka mendidik putra-putra mereka dan agen-agen mereka, akan tetapi pada sebenarnya ia merupakan media atau alat  kejahatan.Karena memang perkembangan , pengalaman-pengalaman dan ketrampilan skill bukan lah tujuan, sebaliknya hanya merupakan media instrumen untuk tujuan lain  yaitu untuk memperkaya diri secara instan.
SYARIAT ISLAM DAN PERKEMBANGAN FISIK-JASMANI.
Suatu hal yang tak diragukan lagi bahwa ketaatan Allah, beribadah kepadanya dan berdakwah ke jalannya  membutuhkan upaya dan kekuatan-kekuatan jasmaniah . Oleh karena itu disebutkan dalam Hadist
المؤمن القوى خير وأحب إلى الله  من المؤمن الضعيف
Artinya : “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah.”
Bahwa bunuh diri , membunuh orang dan melakukan penganiayaan fisik termasuk perbuataan – perbuatan yang diharamkan yang dikenakan sanksi hukuman sikksa oleh  syariat karenanya atas pelakunya di dunia dan di akherat.Dan bahwa setiap amalan ibadah baik berupa shalat, berpuasa dan haji memuat pengaktifan dan pengarahan sebagian kekuatan dan energi fisik dan organ-organ tubuh.pemberian asupan makanan asi kepada anak yang disusui ,menanggung kehidupan anak , memberi makan dan pakaian merupakan  hal menjadi beban tanggungan ayah,atau wakilnya atau negara bila tidak ada yang menanggungnya.
Sesungguhnya Islam menganjurkan sebagaian hal –hal yang  memperkuat fisik dan jasmani, seperti berlatih memanah, berkuda dan berenang .
Rosulullah memberi keleluasaan orang-orang habsi ujuk kepandaian bermain tombak ,beliau melongok menonton dari bilik kamarnya menontonnya bersama sayidah ,Aisyah.
Rasulullah saw pernah mengajak Rukanah , pahlawan jagoan gulat dari kalangan kaumnya adu gulat saat itu dan iapun dapat merobohkan serta mengajak ‘Aisyah lomba lari.
Konon para sahabat saat keluar  pulang usai shalat maghrib mereka berlomba dan berlatih membidikkan anak-anak panah , hingga Rofi, bin Hudaij pun berkata,” Kami pernah shalat Maghrib bersama Nabi , lalu salah seorang dari kami keluar usai shalat  dan sungguh  ia masih bisa melihat sasaran-sasaran anak panahnya.”
Demikianlah  kita melihat bahwa pendidikan Islam  memadukan  di dalamnya antara perkembangan jasmani fisik dengan pendidikan anggota-anggota tubuh, namun  tetap diimbangi dengan mengarahan potensi-potensi  kekuatan ini untuk  kebaikan manusia  dan kebaikan masyarakat  dan melarang  melakukan kekerasan dan perbuatan kesewenang-wenangan.
Pendidikan Islam mempunyai  dua media alat untu mengarahkan kekuatan –kekuatan jasmaniyah ini, :
1.       Membimbing kekuatan-kekuatan tersebut  ke arah hal diridloi Allah semisal menolong orang yang malang , membantu setiap orang dan jihad di jalan Allah.
2.      Melarang segala  yang menimbulkan kemurkaan Allah dengan diiringi isyarat  adzab hukuman bagi setiap tindakan kekerasan , aniaya dan kedzaliman yang dilakukan siapapun tanpa pandang bulu seberapa jauh kekuatan dan kedudukan yang dimilikinya.



PENDIDIKAN ISLAM DAN PERKEMBANGAN AKAL.
Akal pikiran  merupakan kekuatan terpenting manusia dalam pandangan Islam. Semua rukun Islam ditegakkan atas dasar pemahaman akal dan kesadarannya.
Al Qur’an  menyerukan akal  untuk membuktikan adanya Allah , menganjurkan manusia  berfikir merenungi alam semesta dan tentang dirinya sendiri untuk menunjukkan bahwa hanya Allah semata  yang berhak disembah, melirik dan memperhatikan  untuk melakukan analog adanya kebangkitan  di akherat dengan penciptaan awalnya dan kemunculan diri saat pertamanya untuk bisa membuktikan  lewat  konklosi rasional atas kebenaran akidah adanya hari kebangkitan dan pembalasan  amal perbuatan  dan keniscayaannya. Al Quran juga memerintah manusia untuk berfikir  penciptaan langit dan bumi, memperhatikan  jejak –jejak peninggalan kaum –kaum terdahulu. Al Qur’an diturunkan  untuk kita fikirkan makna-makna dan renungi ayat-ayatnya. Al Qur’an mengingkari  orang-orang yang  enggan menggunakan akal fikiran mereka untuk memahami dan berfikir secara benar, menggambarkan mereka seperti orang-orang yang bisu, tuli dan buta. Karena mereka enggan memikirkan segala yang disampaikan endera endera tubuh mereka baik yang didengar maupun yang dilihat ,mereka enggan  mengatakan kebenaran yang didektekan akal fikiran mereka sekira diberi kesempatan untuk berfikir dan merenung, mereka buta  dari melihat kebenaran dan ayat-ayat Allah di cakrawala  yang  mengantarkan  kebenaran , lagi tuli mendengar dalil –dalil  dan ajakan berfikir  kesudahan mereka.  




PENDIDIKAN ISLAM DAN PERKEMBANGAN SOSIAL
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM  MELIPUTI ASPEK SOSIAL  DARI SALAH SATU ASPEK –ASPEK PENDIDIKAN.

·           ARTI  PERKEMBANGAN SOSIAL
Perkembangan sosial atau aspek sosial dalam pendidikan dimaksudkan untuk   berbagai pengertian meliputi :
1.      Perkembangan perasaan-perasaan sosial  seperti perasaan  kebanggaan terhadap komunitasnya , naluri kecendrungan terhadap komunitasnya dan mencintai tradisi dan budayanya.
2.      Perkembangan pengalaman-pengalaman sosialnya, cara beradaptasi dengan komunitasnya , mengenal  segala hal yang tabu dan yang disukai dalam komunitasnya , kewajiban-kewajiban individu-individu yang ditunaikan, tata susila berprilaku dan etika kehidupan bersama.
3.      Perkembangan  konsepsi-konsepsi  sosial , pola-pola berfikir, dan tujuan-tujuan  bersamanya  yang terefleksi dalam jiwa individu-individunya, sebagai  hasil pendidikan  sosial yang mereka warisi, kebersamaan mereka dalam berbagai event-event  hari besar nasionalnya dan atau ibadah-ibadah ritualnya, fonomena kehidupan sosial mereka , kegiatan - kegiatan ekonomi dan usaha strategi mereka saat perang.






KEEMPAT : PENDIDIKAN ISLAM DAN CINTA TANAH AIR YANG BENAR.

·      PENGERTIAN CINTA TANAH AIR  (NASIONALISME) DALAM PENDIDIKAN BARAT DAN KRITIKANNYA.
Pendidikan Islam memiliki ciri khas berbeda dari berbagai pendidikan lain pada umumnya yang menjadikan  tujuan perkembangan sosial menurutnya pendidikan cinta tanah air yang baik. Cinta tanah air yang benar  menurut versinya adalah pendidikan sosial yang ditanamkan  dan ditumbuh-kembangkan  sesuai dengan masyarakat dimana mereka berkembang, mewujudkan  kepentingan dan kemaslahatan-kemaslatan masyarakat tersebut, tujuan-tujuannya dan harapan – harapan dan cita-citanya.
            Nasionalisme  yang benar  dalam masyarakat nasionalis adalah  cinta tanah air yang mendukung  tujuan bangsanya yang nasionalis meski mengantarkan tujuan kolonialisme dan menjajah bangsa-bangsa yang lemah lagi tertindas,........membinasakan dan merampas sumber-sumber kekayaan alamnya.Nasionalisme  dalam masyarakat yang berhaluan komunis  adalah nasionalisme  yang menjadi instrumen produktif   efektif efesien  di tangan para pemimpin partai yang berkuasa dan mengagung-agungkan mereka dan menjadikan mereka tuhan-tuhan selain Allah yakni sengaja dapat mereka rencanakan dan mereka jadikan fasilitas  mudah untuk setiap kehidupan masyarakatnya  agar mengagung-agungkan mereka selain Allah ,takut kepada mereka dan beranggapan bahwa hanya ditangan mereka  hidup mati dan rizkinya.
Mewujudkan cinta tanah air yang benar lagi baik  sejalan  masyarakatnya  dalam hak dan kebatilan  tidak layak menjadi tujuan pendidikan dan tidak layak pula  untuk membentuk  kehidupan sosial  yang benar dan konsep-konsep kebersamaan  dalam masyarakat yang lurus.

SIKAP PENDIDIKAN ISLAM
Adapun pendidikan Islam , maka tujuan pendidikannya  adalah mendidik  cinta tanah air  dan  masyarakat muslim mampu tercipta di dalam masyarakat tersebut  ubudiyyah  (kehambaan diri) kepada Allah semata, dan   juga segala bentuk nilai-nilai luhur dan keutamaan  kehidupan sosial seperti   kerja sama ,gotong royong , solidaritas  dan rasa sepenanggungan dan cinta . Disamping  mengakomudir kebutuhan terhadap rasa nyaman dan keteduhan dengan masyarakatnya bagi anak-anak remajanya dan rasa perlu membanggakan diri terhadap masyarakatnya , punya kecendrungan mencinti tradisi dan budaya  masyarakatnya, dan membangga-banggakannya.Mengakomudir  kesemuanya itu tanpa penyimpangan , mengikuti hawa nafsunya dan taat buta dan tanpa harus kehilangan bakat-bakat yang  terpendam, jati-jati dirinya  dan  potensi-potensi kepribadian nya.
Artinya pendidikan Islam  memadukan  dengan perpaduan yang harmony anara pendidikan ego- jati diri yang bersifat individualis dengan  pendidikan kecendrungan bersosial tanpa adanya salah satu ekstrim berlebih-lebihan mendominasi atas yang lain atau adanya dari salah satunya  menyimpang  dari kebajikan dan ketaataan kepada Allah  dan menyimpang dari merealisir syariatNya, atau menyimpang dari  kebenaran dan konsistensi diri  lurus dalam kehidupuan.

KELIMA : PENDIDIKAN ISLAM DAN TUJUAN  MENCARI RIZKI
Kebanyakan  para remaja dan kaum muda  belajar dan masuk melanjutkan ke berbagai perguruan tinggi  agar mendapatkan pekerjaan dan status dan kedudukan sosial  yang menjamin penghidupan serta rizki bagi mereka.
            Memang  tujuan ini direncanakan , namun membatasi pendidikan pada tujuan sedemikian  tentu akan mempersempit  cakrawalanya ,menghalangi  manusia dari kemajuan moralitas, aktivitas berfikir dan juga peradabannya menjadikannya budak bagi  keinginan nafsunya  yang hasratnya hanya semata-mata  menumpuk-numpuk harta , kemewahan dan kemakmuran (berjiwa hidonis).
Oleh karena  itu  kita amati  bahwa pendidikan islam mengorientasikan  tujuan pendidikan sedemikian  dan pula meleminir dengan mengekang naluri manusiawi ini, mengumpulkan harta dan menyukai  kemewahan dan rasa keinginan untuk menjaga survivelnya.
KEENAM:  CIRI –CIRI KHAS TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Hal sedemikian karena tujuan ini adalah tujuan robbani . Dan tujuan robbani tidak datang melainkan dalam bentuk :
1.      Sempurna karena kesempurnaannya mengadopsi dari kesempurnaan tuhan sendiri , menjauhkan kita dari ragam kekurangan dan mengarahkan kita kearah  nilai-nilai keutamaan dan kebaikan kemanusiaan baik individu-individunya dan masyarakat-masyarakatnya.
2.      Holistis  dan totalitas mencakup kehidupan dengan segala aspeknya dan jiwa manusiawinya dengan segala aspeknya.
3.      Universal , merata untuk semua lapisan umat manusia  lagi humanis manusiawi  tidak diperuntukkan lapisan masyarakat tertentu, dan kepentingan bangsa atau komunitas tertentu dengan kekhususan-kekukhususan yang dimilikinya.
4.      Abadi  sejalan dengan perkembangan zaman, keabadiannya teradopsi dari keberadaannya berasal dari Allah swt.
5.      Pendidikan Islam memiliki acceptable ,sesuai dengan fitrah manusia, dan fitrah naluri manusia  tidak akan berubah.
6.      Tujuan pendidikan Islam adalah pendidikan yang subur lagi  produktif  melahirkan  buah-buah yang baik  tidak mandul karena melepaskan diri dari fitrah manusia sendiri dan tidak pula menghalang-halangi potensi kekuatan yang dimiliki manusia sebaliknya mendorong nya untuk produktif secara positip dan baik , menuntut untuk memberi kebaikan  sedapat yang bisa ia berikan  bagi individu, kelompok dan kemanusiaan.
7.      Tujuan pendidikan Islam jelas transparan  mudah difahami dan difikirkan semua umat manusia, lantaran sesuai naluri  jiwa dan akalnya.
8.      Tujuan pendidikan Islam  menciptakan keseimbangan dan keserasian  antara aspek-aspek kehidupan  dan jiwa manusia tidak menimbulkan kesenjangan antara aspek-aspek tersebut.
9.      Tujuan Pendidikan Islam merupakan tujuan yang realistis   mudah diimplementasikan mempengaruhi  sikap dan prilaku semua manusia dengan hiterogenitas budaya dan usianya.
10.  Bersifat fleksibel dan elastis, punya daya adaptasi yang tinggi  dengan  situasi dan kondisi dengan ragam kondisinya.
KEENAM , PERAN PENTINGNYA  PENDIDIKAN AGAMA (DALAM ARTIAN KHUSUS) DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM.
Yang dimaksud pendidikan agama dalam kurikulum sekolah adalah  pelajaran-pelajaran yang diajarkan di berbagai jenjang pendidikan sekolah  yang meliputi Al Qur’an, Tauhid, Hadist, Fiqih,Tafsir, Kebudayaan Islam, dan sirah nabawiyah .
Materi –materi pelajaran ini di dibuat sebagai penyempurnaan  pendidikan anak berbasis Islam  dari  berbagai aspeknya, aspek psikologis, sosial, spiritual, sikap dan kognitif kemampuan berfikirnya, berbasis mewujudkan ubudiyyahnya penghambaan diri kepada Allah swt.

No comments:

Post a Comment