FASAL KEEMPAT
TUJUAN TARGET PENDIDIKAN ISLAM DAN TUJUAANNYA
PENGERTIAN TUJUAN SYARAT
SYARAT DAN PERAN PENTINGNYA
PERTAMA ; PENGERTIAN TUJUAN
Manusia terkadang terdorong berbuat dan bertindak tanpa mengetahui tujuannya, karena ia punya
naluri senantiasa ingin tetap hidup.
Maka aktivitas perbuatannya dilatar belakangi karena motiv ini seperti orang yang tidur menarik tangganya
saat ada orang lain hendak menusuknya dengan jarum . Maka boleh dikatakan bahwa tindakan dan
perbuatannya senantiasa diiringi dan dilatarbelakangi ingin mempertahankan
hidup /menjaga survivelnya meski ia
tidak mengetahui tujuaannya.
Tetapi pada umumnya dalam
kehidupan orang yang berakal cerdas dan
memiliki kesadaraan akan berfikir dan bermaksud untuk tujuaan tertentu yang hendak dia realisasikan dibalik
semua tindakan dan perbuatannya. . Sepertu siswa atau mahasiswa giat
rajin belajar selama setahun pelajaran agar lulus dalam ujian,
kemudian mendapatkan gelar
ilmiah, kemudian memperoleh status sosial tertentu atau gaji finansiil yang dapat mendukung penghidupannya.
Hasil yang dicapai siswa
ini bisa jadi sinergi dengan
tujuannya ,bisa kurang atau hanya merealisir sebagiannya. Dengan
demikian jelaslah bagi hasil bukanlah tujuan dan motiv bukanlah target dan
tujuan akhir.
Hasil adalah pencapaian yang
terpancar dari tindakan dan perbuatan
yang dicapai oleh orang baik yang
mewujudkan tujuan atau tidak.
Sementara tujuan adalah target yang dibayangkan orang yang
ia taruh didepannya , mengatur
tindakan untuk mewujudknya. Sementara
Motiv adalah faktor yang memotivasi dan menggerakkan anggota
tubuh orang dan jiwanya yang
membangkitkan berbuat dan bertindak
atau memberi asupan energi
yang membangkitkan berbuat
dalam diri psikis dan phisik menggerakkan dan mengaktifkannya hingga mampu mewujudkan target vital utamanya baik ia ketahui atau tidak lewat akal dan jiwanya.
Kedua : Peran Pentingnya penentuan tujuan dan pembatasannya.
Kalau seorang diperintah
berjalan di jalan tertentu tanpa
dijelasanya motiv nya atau memilih jalan ini bukan yang lain, niscaya ia
akan berjalan penuh keraguaan dan
otomatis dorongnya untuk berbuatpun
menjadi lemah., dan senantiasa dibayang bayangi tanda tanya.
Namun bila dikatakan, pada
orang tersebut , berjalankan melewati
jalan ini niscaya anda dapati di
penghujung jalan tersebut kebun taman
yang indah milik sahabat-sahabatnya yang mulia yang gemar mengundang orang –orang yang datang
untuk bersantap bersamanya
de.................dan pancuran –pancuran dan air terjun. Sementara sosok orang tersebut lagi lapar
dan siap bersantap makana,
niscaya ia termotivasi dengan suka ria dan senang hati dan penuh
harap dan menempun jalan itu dengan dengan penuh energik dan kemauan yang kuat sesingkat-singkat
waktu dan usaha.Tujuan jelas mengarahkan
kegiatan dan memotivasi untuk mencapai kesuksesan serta membantu keberhasilan.
Ketiga. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Lantaran pendidikan Islam
adalah pendidikan yang dilakukan secara sadar dan dan kontrukstif bertujuan,
yang Allah telah menaruh prinsip –prinsip dasar nya dalam syariatnya untuk semua manusia , maka adalah
keharusan bagi penelitinya untuk menjelaskan
tujuannya yang luhurnya lagi holistis
sebagaimana yang Allah jelaskan
untuk semua lapisan manusia,
sebelum menjelaskan methode
pendidikannya dan ciri-ciri khasnya. Karena tujuan
lah yang membantu menentukan tujuan.Kalau kita memperhatikan
prinsip-prinsip dasar pendidikan
Islam dan konsepsi Islam tentang alam
dan kehidupan dan tujuan hidup
niscaya kita dapati sebagai berikut :
Sesungguhnya Allah menciptakan alam semesta untuk tujuan tertentu , menciptakan manusia di muka bumi agar menjadi kholifah Allah pemakmur ,
merealisir ketaatan kepada Allah dan hidup berjalan mengambil petunjuknya ,.
Allah menundukkan segala yang ada di
langit dan di bumi untuk kepentinyannya
. Ia jadikan itu semua mengabdi untuk kelangsungan hidup manusia
dan mewujudkan kehidupannya. Ia
menuntut manusia untuk merenung segala
yang ada disementa untuk ia jadikan bukti atas keagungan Allah . Hal inipun kemudian mendorognya untuk
mentaati Allah dan mencintainya patuh
perintah-perintahnya dan bermunajat serta
menjadikannya punya kesiapan
untuk berbuat baik atau buruk. Allah juga mengutus para utusannya kepada manusia untuk membimbing dan memberi petunjuk mereka untuk beribadah kepadaNya dan
mentauhidkannya.
Allah swt menjadikan bagi alam sementara dan kehidupan ini batas akhir
dalam waktu tertentu kemudian alam semesta inipun musnah dan kehidupan
dunia inipun sirna . Kemudian Allah
menciptakan manusia dalam bentuk ciptaan baru. Dan menciptakan
semesta baru dengan maksud untuk
memperhitungkan manusia atas segala amal perbuatannya dan membalas yang berbuat buruk lagi
mengkufuri nikmatnya dan mengingkari
para utusannya serta syariatnya dengan
neraka yang abadi dan yang berbuat baik beriman kepada Allah swt
mensyukuri nikmatNya mengikuti
RosulNya dan kitabNya dengan kenikmatan
syurga naim yang kekal abadi selamanya.
Dari perspektif Islam tentan alam semesta ini jelaslah bahwa tujuan pokok eksistensi manusia di alam semesta ini untuk
beribadah /menyembah Allah dan
patuh taat kepadanya dan menjadi kholifah di muka bumi guna
memakmurkan bumi lewat merealisarikan
syariat Allah dan mentaatinya .Al Quran menjelaskan tujuan ini dalam Firman
Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(56)
Artinya :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku”.(QS. Dzariyat
:56)
Apabila urgenitas manusia dalam hidup sedemikian otomatis itu pulalah yang menjadi orientasi
tujuan pendidikannya.Kerena pendidikan sebagaimana yang didefinisikan
sebagai bentuk upaya mengembangkan kemampuan berfikir manusia , mengatur prilaku dan tindakannya serta
perasaannya atas dasar agama
Islam.Dengan demikian tujuan akhir pendidikan Islam adalah mewujudkan ubudiyah
(kehambaan diri ) kepada Allah dalam
kehidupan manusia baik kehidupan
individualnya maupun sosialnya
ISLAM DAN TUJUAN PENDIDIKAN BARAT
Namun pembatasan pada tujuan
sedemikian ini tidak berarti membatasi usaha manusia hanya pada persoalan ibadah (ritual), masjid dan
membaca Al Qura’an, sebagaimana yang
nampak sebagian orang di awal
mulanya.Karena ketaatan kepada Allah tidak terbatas hanya ritual dan aktivitas
–aktivitas ibadah anscih sebaliknya
meliputi segala aspek kehidupan .
Dengan demikian
semua tujuan pendidikan yang dipropagandakan pendidikan pendidikan barat saat
ini pada hakekatnya telah tercakup
dalam tujuan luhur pendidikan Islam ini
yang diorentasikan perspektif yang
ideal yang menjauhkannya dari bentuk
penyimpangan atau kesalahan sehingga mampu berkhidmat bagi
kemanusiaan dan mewujudkan
kebahagiaan baik untuk individu maupun
masyarakat.
Untuk menjelaskan hal tersebut , tidak boleh tidak kita mesti
membeberkan masing-masing tujuan-tujuan ini
guna memperjelas pengertiannya dalam pendidikan barat dan bagaimana realisasinya dalam pendidikan
Islam.
1.ISLAM DAN TUJUAN PENDIDIKAN MENGEKSPRESIKAN DIRI.
Diantara tokoh pendidikan
yang beraliran tujuan pendidikan sedemikian adalah Sir Burshi nan . Ia berkata,
dalam karyanya ‘Education” bahwa ego
(pengekspresian diri ) adalah tujuan tertinggi luhur
dari pendidikan.Adalah tidak ada
kebaikan sama sekali yang mungkin didapati alam ini kecuali lewat memberi
kebebasan beraktivitas bagi semua
individu –indivitu ; baik laki-laki maupun perempuan.Dan bahwa sesungguhnya
pendidikan yang mengambil prinsip dasar mengekspresikan diri (mewujudkan ego)
sebagai tujuan itulah satu-satunya pendidikan yang sejalan dengan hukum –hukum alam dan
dibuktikan dengan kebenaran-kebenaran
yang diperoleh dari ilmu kehidupan.
Maksud dari tujuan
ini adalah bahwa masing-masing
manusia memiliki ego (diri) dan ciri
–ciri kharakteristik tersendiri yang
membedakan dirinya dari orang lain.Pendidikan yang benar , menurut perspektif
mereka adalah pendidikan yang memperhatikan pengekspresin karakteristik
–karakteristik ini lewat memberi ruang kebebasan sebebas-bebasnya pada semua
umat manusia, memberi kesempatan yang cukup memadai dan situasi-situasi yang kondusif bagi semua anak didik untuk dapat mengekspresikan dirinya
dalam lingkungan sosial yang kondusif bagi semua orang.
KRITIKAN TERHADAP TUJUAN INI.
Ada dua hal yang perlu dikaji ulang dari tujuan ini ;
Pertama : Bahwa kebebasan
atau kebebasan beraktivitas bagi semua
individu sebagai yang dinyatakan Bursi
Nan masih perlu adanya batasan- batasan yang menjaga individu individu dari
keterperdayaan dengan ke-ego-an dirinya,
berbuat sewenang-wenang terhadap orang
lain atau penyalahgunaan karakteristik
dirinya untuk berbuat kejahatan terhadap
sesama atau merugikan masyarakat.
Bila setiap anak tumbuh dewasa menyakini sepenuhnya bahwa
masyarakat dan alam semesta
kesemuanya wahana untuk mengekspresikan
dirinya tanpa adanya tujuan yang luhur
yang mengarahkan dan membimbing
potensi-potensinya, maka tipikal masyarakat bagaimanakah yang dihasilkan pendidikan ini untuk kita ?
Tujuan yang luhur sedemikian belum pernah ditetapkan sama
sekali oleh para ahli pendidikan yang
beraliran tujuan “ekspreonisme” meski Brusi nan telah mensinyalir lewat pernyataannya, “ Adalah salah besar orang yang berasumsi bahwa teori
kami ini tidak memilah –milah antara nilai-nilai kebaikan dan nilai nilai keburukan dalam kehidupan
dan tidak mampu membedakan mana ragam
bentuk ego-ego diri yang mesti harus dimovitasi dan mana ragam
ego diri yang mesti harus diredam.”
Namun dia dalam
pernyataannya yg diisyaratkan ini tidak
menyandarkan pada prinsip dasar dan
standar paramater baik dan buruk, sehingga
sekiranya ia membuat suatu prinsip dasar niscaya ia berselisih dengan
para ahli pendidikan dan para
filosof lain dan manusia
akan terus berbeda. Untuk itu mesti tidak boleh tidak perlu adanya tolok
ukur /parameter ilahi yang disepakati
bersama dalam hal sedemikian ini,
lantaran standar parameter –paramater orang satu sama lain berbeda beda sesuai
kondisi sosial mereka , phisikis mereka
dan keluarga mereka dan otomatis satu dari sekian parameter tidak layak menjadi standar pendidikan bagi
semua manusia.
Adapun bagaimana tujuan
pendidikan Islam yaitu memurnikan ibadah
semata-mata untuk Allah swt. Mencakup
tujuan pengekspresian diri. Berikut penjelasannya
a.
Saat
Allah membebankan manusia beribadah dan
menyembah kepadanya Ia membebaninya atas
dasar prinsip bahwa ia mempu membedakan
baik dan buruk . Disamping itu Allah juga
menjelaskan kepadanya konsekwensi dan akibat jalan kebaikan yang dipilihnya kelak di hari kiamat dan konsekwensi jalan
kejahatan .Di sinilah terdapat apresiasi
bagi ego – diri manusia. Karena
Allah telah menjadikannya punya potensi diri
untuk membedakan dan memilih, yang berarti memberi kebebasan memilih kemudian menjelaskan kepadanya tanggungjawab yang mesti
dipertanggungjawabkan atas pilihannya
ini
b.
Bahwa
Allah membukakan bagi semua orang seluas luasnya ruang berkompetisi ke arah
kebajikan dan membuat prinsip dasar
balasan sesuai amal perbuatannya, bila baik akan memperoleh balasan baik
dan bila buruk otomatis akan mendapat balasan buruk.Allah akan memperhitungkan
amal perbuatan sekecil apapun meski sebesar bijih atom sekalipun , kemudian
melipat gandakan bagi siap yang Ia
kehendaki, tidak ada diskualifikasi antara laki-laki dan perempuan dan tidak ada kelebihan bagi orang arab atas
orang ajam non arab kecuali karena ketakwaannya, yakni amal perbuatan
yang memanifestasikan rasa takutnya terhadap adzab Allah,
kekhusukan dan ketaatan kepada Allah.
c.
Bahwa
Allah telah menjadikan tujuan luhur pendidikan
( taat kepada Allah dan beribadah
kepadaNya) sebagai tolok ukur untuk membedakan ego-ego yang baik dan ego-ego yang buruk dan
parameter pembeda antara pengekspresian diri di jalan kebaikan dan pengekspresian diri di jalan keburukan.Dan
penjelasan – penjelasan secara panjang lebar
standar ini banyak tersebar di berbagai
karya kitab fiqih dan Tauhid serta dalam ayat-ayat Al Qur’an dan hadist-hadist Nabi Saw.
Demikianlah
Islam membiarkan tujuan pengekpresian
diri dan kebebasan lepas tanpa batasan
dan aturan. Sebaliknya menilai tujuan
ini sebagai media untuk tujuan yang lebih luhur darinya.
d.
Dalam
beberapa ayat Al Qur’an dan Hadist Nabi dituturkan urgenitas setiap orang berbuat
sesuai ...................potensi
dan kesiapan dirinya. Seperti Firman Allah swt. Sucikanlah nama Tuhanmu Yang
Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang
menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, (QS. Al A’la : 1-3)
Yakni menentukan bagi setiap
makhluk kesiapan dan potensi
spesifiknya dan memberi petunjuk
ke arah jalan hidup yang akan
mengekspresikan ego –dirinya /jati dirinya dan berbagai kesiapannya.
Dan firman Allah : Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka
Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu,
".
Masyarakat Mukmin akan
melihat dan mengapresiasi pekerjaan-pekerjaan individu-individu nya ,memotivasi potensi dan
kesiapan diri mereka serta membalasnya dengan ucapan syukur dan penuh apresiasi
.
Dan sabda Rasulullah saw.
إعملوا فكل ميسر لما خلق له
Artinya
:”Berbuat dan bekerjalah karena masing masing orang akan dimudahkan untuk
tujuan (profesi ) ia diciptakan. “
....................
Maksudnya
sesungguhnya Allah swt. menciptakan
setiap makhluk dan setiap manusia untuk
tujuan tertentu atau tugas (profesi hidup ) tertentu dan membekalinya
kemampuan-kemampuan dan kompetensi tertentu dan mempermudah atau membukakan wahana ekspresi
selebar-lebarnya sesuai dengan ego jati dirinya ,kompetensi dan
kemampuannya.Oleh karena itu Allah
memerintahnya bekerja dan berusaha mewujudkan nilai-nilai luhur sesuai dengan kemampuan dan ego /jati
dirinya.
2. ISLAM DAN TUJUAN PERKEMBANGAN
ARAHAN ISLAM DALAM BERBAGAI ASPEK PENDIDIKAN
Sebagian ilmuawan pendidikan dan para filosof modern
pendidikan berpendapat bahwa tujuan
satu-satunya dari pendidikan adalah
perkembangan; perkembangan
manusia dalam berbagai aspeknya baik aspek intelegensi, fisik maupun
aspek spirituil maupun aspek sosialnya. Namun
pengertian perkembangan ini masih memerlukan penjelasan. Apakah
perkembangan yang dimaksudkan semata mata bertambah kwantitas atau timbangannya
atau pengetahuan-pengetahuannya dan
konsep-konsepnya ataupun yang dimaksud
perkembangan kwalitas cara dan
gaya hidup anak semenjak lahir hingga
dewasanya ? dari gerakan-gerakan fisiknya, sikap dan prilakuanya
Para ilmuawan pendidikan
saat ini sepakat bahwa
bertambahnya kwantitas semata bukanlah makna perkembangan yang menjadi tujuan
pendidikan. Namun mereka berselisih
dalam hal pengembangan prilaku manusia.
a.
Sebagian
mereka mengacu pada reaksi sebagai umpan baliknya .Mereka menjadikan manusia bak
seperti tempat kerja atau rumah produksi
yang berkapasitas besar.Setiap kali satu tombol dari tombol –tombol yang ada
ditekan secara otomatis salah satu alat dari alat alat tsb bergerak .
Dan setiap alat akan menggerakkan dan mengaktifkan peralatan berikutnya,
sehingga kemudian diakhir kalinya mampu memproduksi hasil produksi, menghasilkan lemari es ,
mobil atau AC dll ke tangan konsumen..... Demikian tak jauh berbeda dengan manusia tiap kali memperoleh pengaruh
eksternal iapun berusaha mengekspresikan atau mewujudkan nafsu syahwat
dari keinginan syahwat-syahwatnya.
Cukup dimaklumi bahwa satu pengaruh
eksternal saja, seperti melihat makanan
misalnya, akan memberi berbagai reaksi dan respon yang beragam.,seperti sikap tak peduli dan rasa acuh tak acuh bagi
orang yang lagi kekenyangan, sabar dan tabah menahan diri bagi yang sedang
berpuasa dan rasa gensi bagi orang yang
jaga gengsi yang tidak mendapati
kecendrungan yang cukup pada macam makanan sedemikian ini.
b.
Kelompok
kedua , menyatakan baawha manusia akan mengalami perkembangan yakni prilakunya
akan berkembang karena pengaruh pengalaman-pengalaman yang terbentuk dalam
dirinya.Taruhlah suatu contoh jika
seorang anak ada di antara keluarganya , ia mengotori bajunya yang masih
baru dengan makanan misalnya niscaya mereka mencaci makinya,berbuat kasar padanya dan memperlihatkan rasa emosi dan garang di
hadapannya .suatu tindakan dan sikap yang
membuatnya mempertautkan di dalam akal fikirannya hubungan antara sakir
hati dan mengotori baju baru.
Hubungan ini dinamai John Dewey pengalaman /experience, Bila
pengalaman ini dalam contoh ini berasal dari masyarakat maka mungkin dapat kita
namai pengalaman sosial (social
experience).
KRITIKAN TUJUAN PENDIDIKAN INI.
Tidak diragukan bahwa bahwa berturut-turutnya pengalaman kemungkinan besar bis mengembangkan akal
pikiran anak dan menjadikan prilakunya lebih dekat beradabtasi dengan
masyarakat beserta peradaban dan inovasi
serta penemuan – penemuannya di samping situasi kondisi kehidupan dan
tuntutan-tuntutannya.
Namun tidaklah semua
pengalaman sama dalam mewujudkan
kebaikan manusiawi, disamping pula tidak lah setiap perkembangan diorientasikan
dan digunakan untuk kebaikan .sebagian geng-geng di Amerika mempergunakan
pengalaman-pengalaman mereka dan perkembangan intelegensi dan ketrampilan skill
mereka untuk membobol berbagai bank atau menculik tokoh-tokoh besar dan anak-anak dari
orang-orang kaya untuk memperoleh tebusan.
Apakah hal sedemikian bisa dikategorikan tujuan pendidika? Hal
sedemikian dalam kebiasaan geng-geng itu dianggap tujuan yang atas dasar
itu mereka mendidik putra-putra mereka dan agen-agen mereka, akan tetapi pada
sebenarnya ia merupakan media atau alat
kejahatan.Karena memang perkembangan , pengalaman-pengalaman dan
ketrampilan skill bukan lah tujuan, sebaliknya hanya merupakan media instrumen
untuk tujuan lain yaitu untuk memperkaya
diri secara instan.
SYARIAT ISLAM DAN PERKEMBANGAN FISIK-JASMANI.
Suatu hal yang tak diragukan lagi bahwa ketaatan Allah, beribadah
kepadanya dan berdakwah ke jalannya
membutuhkan upaya dan kekuatan-kekuatan jasmaniah . Oleh karena itu
disebutkan dalam Hadist
المؤمن القوى خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف
Artinya : “Orang
mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang
mukmin yang lemah.”
Bahwa bunuh diri , membunuh orang dan melakukan penganiayaan fisik
termasuk perbuataan – perbuatan yang diharamkan yang dikenakan sanksi hukuman
sikksa oleh syariat karenanya atas
pelakunya di dunia dan di akherat.Dan bahwa setiap amalan ibadah baik berupa
shalat, berpuasa dan haji memuat pengaktifan dan pengarahan sebagian kekuatan
dan energi fisik dan organ-organ tubuh.pemberian asupan makanan asi kepada anak
yang disusui ,menanggung kehidupan anak , memberi makan dan pakaian merupakan hal menjadi beban tanggungan ayah,atau
wakilnya atau negara bila tidak ada yang menanggungnya.
Sesungguhnya Islam menganjurkan sebagaian hal –hal yang memperkuat fisik dan jasmani, seperti
berlatih memanah, berkuda dan berenang .
Rosulullah memberi keleluasaan orang-orang habsi ujuk kepandaian
bermain tombak ,beliau melongok menonton dari bilik kamarnya menontonnya
bersama sayidah ,Aisyah.
Rasulullah saw pernah mengajak Rukanah , pahlawan jagoan gulat dari
kalangan kaumnya adu gulat saat itu dan iapun dapat merobohkan serta mengajak
‘Aisyah lomba lari.
Konon para sahabat saat keluar
pulang usai shalat maghrib mereka berlomba dan berlatih membidikkan
anak-anak panah , hingga Rofi, bin Hudaij pun berkata,” Kami pernah shalat
Maghrib bersama Nabi , lalu salah seorang dari kami keluar usai shalat dan sungguh
ia masih bisa melihat sasaran-sasaran anak panahnya.”
Demikianlah kita melihat
bahwa pendidikan Islam memadukan di dalamnya antara perkembangan jasmani fisik
dengan pendidikan anggota-anggota tubuh, namun
tetap diimbangi dengan mengarahan potensi-potensi kekuatan ini untuk kebaikan manusia dan kebaikan masyarakat dan melarang
melakukan kekerasan dan perbuatan kesewenang-wenangan.
Pendidikan Islam mempunyai
dua media alat untu mengarahkan kekuatan –kekuatan jasmaniyah ini, :
1.
Membimbing kekuatan-kekuatan tersebut ke arah hal diridloi Allah semisal menolong
orang yang malang , membantu setiap orang dan jihad di jalan Allah.
2.
Melarang
segala yang menimbulkan kemurkaan Allah
dengan diiringi isyarat adzab hukuman
bagi setiap tindakan kekerasan , aniaya dan kedzaliman yang dilakukan siapapun
tanpa pandang bulu seberapa jauh kekuatan dan kedudukan yang dimilikinya.
PENDIDIKAN
ISLAM DAN PERKEMBANGAN AKAL.
Akal
pikiran merupakan kekuatan terpenting
manusia dalam pandangan Islam. Semua rukun Islam ditegakkan atas dasar
pemahaman akal dan kesadarannya.
Al Qur’an menyerukan akal untuk membuktikan adanya Allah , menganjurkan
manusia berfikir merenungi alam semesta
dan tentang dirinya sendiri untuk menunjukkan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, melirik dan
memperhatikan untuk melakukan analog
adanya kebangkitan di akherat dengan
penciptaan awalnya dan kemunculan diri saat pertamanya untuk bisa
membuktikan lewat konklosi rasional atas kebenaran akidah
adanya hari kebangkitan dan pembalasan
amal perbuatan dan
keniscayaannya. Al Quran juga memerintah manusia untuk berfikir penciptaan langit dan bumi,
memperhatikan jejak –jejak peninggalan
kaum –kaum terdahulu. Al Qur’an diturunkan
untuk kita fikirkan makna-makna dan renungi ayat-ayatnya. Al Qur’an
mengingkari orang-orang yang enggan menggunakan akal fikiran mereka untuk
memahami dan berfikir secara benar, menggambarkan mereka seperti orang-orang
yang bisu, tuli dan buta. Karena mereka enggan memikirkan segala yang
disampaikan endera endera tubuh mereka baik yang didengar maupun yang dilihat
,mereka enggan mengatakan kebenaran yang
didektekan akal fikiran mereka sekira diberi kesempatan untuk berfikir dan merenung,
mereka buta dari melihat kebenaran dan
ayat-ayat Allah di cakrawala yang mengantarkan
kebenaran , lagi tuli mendengar dalil –dalil dan ajakan berfikir kesudahan mereka.
PENDIDIKAN ISLAM DAN
PERKEMBANGAN SOSIAL
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
MELIPUTI ASPEK SOSIAL DARI SALAH
SATU ASPEK –ASPEK PENDIDIKAN.
·
ARTI PERKEMBANGAN SOSIAL
Perkembangan sosial atau aspek sosial dalam pendidikan dimaksudkan
untuk berbagai pengertian meliputi :
1.
Perkembangan
perasaan-perasaan sosial seperti
perasaan kebanggaan terhadap
komunitasnya , naluri kecendrungan terhadap komunitasnya dan mencintai tradisi
dan budayanya.
2.
Perkembangan
pengalaman-pengalaman sosialnya, cara beradaptasi dengan komunitasnya ,
mengenal segala hal yang tabu dan yang
disukai dalam komunitasnya , kewajiban-kewajiban individu-individu yang
ditunaikan, tata susila berprilaku dan etika kehidupan bersama.
3.
Perkembangan konsepsi-konsepsi sosial , pola-pola berfikir, dan
tujuan-tujuan bersamanya yang terefleksi dalam jiwa
individu-individunya, sebagai hasil
pendidikan sosial yang mereka warisi,
kebersamaan mereka dalam berbagai event-event
hari besar nasionalnya dan atau ibadah-ibadah ritualnya, fonomena
kehidupan sosial mereka , kegiatan - kegiatan ekonomi dan usaha strategi mereka
saat perang.
KEEMPAT : PENDIDIKAN ISLAM DAN CINTA TANAH AIR YANG BENAR.
·
PENGERTIAN CINTA TANAH AIR (NASIONALISME) DALAM PENDIDIKAN BARAT DAN
KRITIKANNYA.
Pendidikan
Islam memiliki ciri khas berbeda dari berbagai pendidikan lain pada umumnya
yang menjadikan tujuan perkembangan
sosial menurutnya pendidikan cinta tanah air yang baik. Cinta tanah air yang
benar menurut versinya adalah pendidikan
sosial yang ditanamkan dan
ditumbuh-kembangkan sesuai dengan
masyarakat dimana mereka berkembang, mewujudkan
kepentingan dan kemaslahatan-kemaslatan masyarakat tersebut,
tujuan-tujuannya dan harapan – harapan dan cita-citanya.
Nasionalisme yang benar
dalam masyarakat nasionalis adalah
cinta tanah air yang mendukung
tujuan bangsanya yang nasionalis meski mengantarkan tujuan kolonialisme
dan menjajah bangsa-bangsa yang lemah lagi tertindas,........membinasakan dan
merampas sumber-sumber kekayaan alamnya.Nasionalisme dalam masyarakat yang berhaluan komunis adalah nasionalisme yang menjadi instrumen produktif efektif efesien di tangan para pemimpin partai yang berkuasa
dan mengagung-agungkan mereka dan menjadikan mereka tuhan-tuhan selain Allah
yakni sengaja dapat mereka rencanakan dan mereka jadikan fasilitas mudah untuk setiap kehidupan masyarakatnya agar mengagung-agungkan mereka selain Allah ,takut
kepada mereka dan beranggapan bahwa hanya ditangan mereka hidup mati dan rizkinya.
Mewujudkan
cinta tanah air yang benar lagi baik
sejalan masyarakatnya dalam hak dan kebatilan tidak layak menjadi tujuan pendidikan dan
tidak layak pula untuk membentuk kehidupan sosial yang benar dan konsep-konsep kebersamaan dalam masyarakat yang lurus.
SIKAP PENDIDIKAN ISLAM
Adapun
pendidikan Islam , maka tujuan pendidikannya
adalah mendidik cinta tanah
air dan
masyarakat muslim mampu tercipta di dalam masyarakat tersebut ubudiyyah
(kehambaan diri) kepada Allah semata, dan juga segala bentuk nilai-nilai luhur dan
keutamaan kehidupan sosial seperti kerja sama ,gotong royong , solidaritas dan rasa sepenanggungan dan cinta . Disamping mengakomudir kebutuhan terhadap rasa nyaman
dan keteduhan dengan masyarakatnya bagi anak-anak remajanya dan rasa perlu
membanggakan diri terhadap masyarakatnya , punya kecendrungan mencinti tradisi
dan budaya masyarakatnya, dan
membangga-banggakannya.Mengakomudir kesemuanya
itu tanpa penyimpangan , mengikuti hawa nafsunya dan taat buta dan tanpa harus
kehilangan bakat-bakat yang terpendam,
jati-jati dirinya dan potensi-potensi kepribadian nya.
Artinya
pendidikan Islam memadukan dengan perpaduan yang harmony anara
pendidikan ego- jati diri yang bersifat individualis dengan pendidikan kecendrungan bersosial tanpa
adanya salah satu ekstrim berlebih-lebihan mendominasi atas yang lain atau
adanya dari salah satunya
menyimpang dari kebajikan dan
ketaataan kepada Allah dan menyimpang
dari merealisir syariatNya, atau menyimpang dari kebenaran dan konsistensi diri lurus dalam kehidupuan.
KELIMA : PENDIDIKAN ISLAM DAN TUJUAN MENCARI RIZKI
Kebanyakan para remaja dan kaum muda belajar dan masuk melanjutkan ke berbagai
perguruan tinggi agar mendapatkan
pekerjaan dan status dan kedudukan sosial
yang menjamin penghidupan serta rizki bagi mereka.
Memang tujuan ini direncanakan , namun membatasi
pendidikan pada tujuan sedemikian tentu
akan mempersempit cakrawalanya
,menghalangi manusia dari kemajuan
moralitas, aktivitas berfikir dan juga peradabannya menjadikannya budak
bagi keinginan nafsunya yang hasratnya hanya semata-mata menumpuk-numpuk harta , kemewahan dan
kemakmuran (berjiwa hidonis).
Oleh
karena itu kita amati
bahwa pendidikan islam mengorientasikan
tujuan pendidikan sedemikian dan
pula meleminir dengan mengekang naluri manusiawi ini, mengumpulkan harta dan
menyukai kemewahan dan rasa keinginan
untuk menjaga survivelnya.
KEENAM:
CIRI –CIRI KHAS TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Hal
sedemikian karena tujuan ini adalah tujuan robbani . Dan tujuan robbani tidak
datang melainkan dalam bentuk :
1.
Sempurna
karena kesempurnaannya mengadopsi dari kesempurnaan tuhan sendiri , menjauhkan
kita dari ragam kekurangan dan mengarahkan kita kearah nilai-nilai keutamaan dan kebaikan
kemanusiaan baik individu-individunya dan masyarakat-masyarakatnya.
2.
Holistis dan totalitas mencakup kehidupan dengan
segala aspeknya dan jiwa manusiawinya dengan segala aspeknya.
3.
Universal
, merata untuk semua lapisan umat manusia
lagi humanis manusiawi tidak
diperuntukkan lapisan masyarakat tertentu, dan kepentingan bangsa atau
komunitas tertentu dengan kekhususan-kekukhususan yang dimilikinya.
4.
Abadi sejalan dengan perkembangan zaman, keabadiannya
teradopsi dari keberadaannya berasal dari Allah swt.
5.
Pendidikan
Islam memiliki acceptable ,sesuai dengan fitrah manusia, dan fitrah naluri
manusia tidak akan berubah.
6.
Tujuan
pendidikan Islam adalah pendidikan yang subur lagi produktif
melahirkan buah-buah yang
baik tidak mandul karena melepaskan diri
dari fitrah manusia sendiri dan tidak pula menghalang-halangi potensi kekuatan
yang dimiliki manusia sebaliknya mendorong nya untuk produktif secara positip
dan baik , menuntut untuk memberi kebaikan
sedapat yang bisa ia berikan bagi
individu, kelompok dan kemanusiaan.
7.
Tujuan
pendidikan Islam jelas transparan mudah
difahami dan difikirkan semua umat manusia, lantaran sesuai naluri jiwa dan akalnya.
8.
Tujuan
pendidikan Islam menciptakan keseimbangan
dan keserasian antara aspek-aspek
kehidupan dan jiwa manusia tidak
menimbulkan kesenjangan antara aspek-aspek tersebut.
9.
Tujuan
Pendidikan Islam merupakan tujuan yang realistis mudah diimplementasikan mempengaruhi sikap dan prilaku semua manusia dengan
hiterogenitas budaya dan usianya.
10.
Bersifat
fleksibel dan elastis, punya daya adaptasi yang tinggi dengan
situasi dan kondisi dengan ragam kondisinya.
KEENAM , PERAN
PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA (DALAM
ARTIAN KHUSUS) DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM.
Yang dimaksud pendidikan agama dalam kurikulum sekolah adalah pelajaran-pelajaran yang diajarkan di
berbagai jenjang pendidikan sekolah yang
meliputi Al Qur’an, Tauhid, Hadist, Fiqih,Tafsir, Kebudayaan Islam, dan sirah
nabawiyah .
Materi –materi pelajaran ini di dibuat sebagai penyempurnaan pendidikan anak berbasis Islam dari
berbagai aspeknya, aspek psikologis, sosial, spiritual, sikap dan
kognitif kemampuan berfikirnya, berbasis mewujudkan ubudiyyahnya penghambaan
diri kepada Allah swt.
No comments:
Post a Comment